Minggu, 28 Mei 2023

GUNUNGKIDUL MENJELANG DUA ABAD


Saya menulis tembang dalam bentuk puisi berbahasa Jawa yang jamak disebut geguritan. 

Puisi tersebut saya beri tajuk 'Gunungkidul Ambal Warsa'. Persis  pada usia 192 tahun.
Secara lengkap narasinya tertulis dalam  pupuh dhandhanggula. Berbunyi begini:

GUNUNGKIDUL AMBAL WARSA

Wus lumampah Gunungkidul wani,
Nata desa saben ambal warsa, 
Milang-miling sedayane. 
Warga asung bebantu, 
Candi mulya den anti-anti, 
Tan pegat tan lelewa,
Sagah sanggemipun 
Dalane kemudu amba, 
Banyu rata cinandhak asta tan keri,
Kondhangnya, tekeng manca.
Tidak semua orang bisa menikmati puisi di atas.  Memahami geguritan tidak cukup dengan memaknai kata demi kata, baris demi baris (secara parsial).

Memahami puisi harus dilakukan secara holistik alias menyeluruh, sebab judul dan isi adalah satu kesatuan.

Cara paling sederhana menikmati  geguritan menurut saya begini:

Wus lumampah Gunungkidul wani,
(Berani dalam hal apa?)

Nata desa saben ambal warsa, 
(Dengan cara bagaimana?)

Milang-miling sedayane. 
(Meneliti, mencermati semua potensi yang ada. Apa itu  dilakukan  pemerintah sendirian? Tidak. Karena faktanya adalah:

Warga asung bebantu, 
(Rakyat berpartisipasi) 

Candi mulya den anti-anti, 
(Gunungkidul subur makmur, adil, bermanfaat)

Tan pegat tan lelewa,
Sagah sanggemipun 
(Penguasa dan rakyat tidak ada yang wegah, semua bekerja, sesuai kemampuan) 

Dalane kemudu amba, 
Banyu rata cinandhak asta tan keri,
(Jalan dibangun. Ketersediaan air digali.
Tidak hanya untuk keperluan  minum tetapi juga untuk pertanian)

Kondhangnya, tekeng manca.
(Gunungkidul dijangka menemui kejayaan sehingga dikenal dunia. Gunungkidul benar-benar menjadi Bali kedua)
Tembang yang saya tulis adalah sebatas gambaran hal yang dilakukan  Bupati Sunaryanta bersama Organisasi Pemerintah Daerah, mulai tahun 2021 hingga 2023.

Pertanyaannya, hal mana yang tidak sesuai dengan harapann warga Gunungkidul?

Dalan Amba Banyu Rata harus diakui bahwa itu memang gagasan Benyamin Sudarmadi dan Haji Mustangit. 

Tetapi kalau mau jujur dan fair, itu bukan slogan lama, karena saat ini terus dikerjakan Sunaryanta bersama Heri Susanto.

Tembang  Gunungkidul Ambal Warsa tidak bermaksud menggurui siapapun. Sekali lagi, bahwa itu hanya sebagian  potret kecil  yang dilakukan oleh penguasa saat ini. 

Geguritan di atas tidak mengandung slogan politik. Sama sekali tidak.

(Bambang Wahyu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Menurut Anda

DHANDHANG-GULA NALISIR

Siji Gunungkidul  ing mangsa kawuri  Alas wingit 'king tebih sinawang Sato galak panunggune. Jalma nerak keplayu Asri wana caketing ati ...