Rabu, 26 Oktober 2016

SANGGUPKAN AKU MEMBUNUH DENGAN CINTAMU

Gelombang Cinta. Foto Net


SATU
Berbicara dengan orang yang tidak mengerti, bahwa dirinya tidak mengerti, memang susah. Pikirannnya serba ngusruk. Hatinya keras. Meski tidak seperti batu, namun mirip ketela pohung mentah. Di samping baunya langu, jika dimakan  bikin puyeng. 

Berbeda dengan ketela yang telah menjadi tape karena proses fermentasi. Manis, bikin perut anget serta nyaman. Lebih enak lagi jika ngomongin sesuatu dengan orang yang mengerti, bahwa dirinya mengerti. Ilmu bisa bertambah.

Semakin kucari, semakin bertambah, tapi semakin banyak yang tidak aku ketahui. Ilmu yang kudapat seperti tidak ada apa-apnya. Makhluk paling bodoh tidak lain ya aku ini.

Suatu ketika ada terbisik sesuatu di telinga hatiku. Ilmu jagat raya ini terlalu banyak untuk ditulis. Kalaupun ditulis dengan tinta selautan, ditambah tinta tujuh lautan, tintanya habis, ilmunya masih luar biasa banyak.

Eyang Dwija Prawiro suwargi, usia 151 tahun, yang baru saja meninggal tiga hari lalu tak jemu memberi pelajaran ringkas begini: 

“Ngelmu iku, kelakone kanthi laku. Lekase lawan khas. Tegese khas nyantosani. Setyo budyo, pangekesing dur angkoro”.

Teman-temanku yang mengaku sebagai penganut pendidikan aliran barat mengatakan, mahasiswa itu adalah manusia merdeka. Cara pikir dan pola tindak harus serba ilmiah berlandaskan ilmu obyektif,  bukan bersandar pada rasa.

“Kamu masih berpegang pada petatah petitih lama, termasuk tembang Jawa seperti itu?,” salah satu temanku mengejek seraya ketawa ngakak, setelah membaca bagian dari skripsi yang aku persiapkan.

Dia berpendapat tulisanku itu kampungan. Dia memastikan tidak bakalan diterima oleh dosen pembimbing. Cuek amat, aku tak merasa perlu membalas ejekannya.

Aku pernah diberitahu seorang sepuh, sekarang berada di mana, sudah mati apa  masih sugeng tidak kuketahui. Setiap manusia yang lahir ke dunia memiliki saudara kembar siam, 4 jumlahnya.

“Mereka itu persis kamu. Yang membedakan hanya warna dan tempat. Abang, Ireng, Kuning, Putih itu saudaramu. Mereka menempat di utara, timur, selatan, serta barat,” kata pinisepuh kala itu.

Saudara kembar pertama bernama Amarah. Dia sahabatmu yang memberitahu, bahwa kamu tidak bisa hidup sendiri sebagai makhluk soliter. Kamu perlu teman, kamu perlu bermasyarakat. Penampakan Amarah adalah merah. Dalam warna  itu ada api yang menghangatkan. Selama darah kamu itu belum beku, pertanda kamu belum mati. Dia berkedudukan di kutub utara. Itu sebabnya manusia Jawa yang mati selalu dikebumikan membujur ke utara.

Saudara kembar kedua namanya Aluamah, penampakanya hitam. Dia berada di arah matahari terbit. Kerjanya mendorong kamu untuk menjadi pemberani, termasuk berani membunuh pada saat yang tepat, dalam berperang misalnya. Bumi adalah sifat saudaramu yang kedua. Kamu tidak akan berumur panjang, tanpa makan sari-sarinya bumi. 

Supiyah, itu nama saudara kembarmu yang ketiga. Penampakannya kuning, berkedudukan menghadap ke kutub utara. Dia menyebabkan kamu memiliki kecintaan terhadap harta benda secara berlebihan. Supiyah itu memiliki sifat udara. Seumur hidup sebab itu kamu terfasilitsi udara.

Saudara yang keempat adalah Mutmainah.  Wujudnya putih. Dia saudara kembarmu yang memberimu kekuatan istikomah. Hanya tunduk dan takut kepada Alloh SWT, tidak kepada yang lain. Wujudnya putih sebagai simbol darah putih. Dia memiliki karakter air. Kamu tidak bisa mengingkari dalam dirimu itu ada elmen air. Posisi Mutmainah berada di arah matahari terbenam. Jangan usil bertanya kenapa sebagai muslim kalau sholat musti mengahap ke barat. Itu pemikiran Jawa, yang tidak banyak diketahui oleh sebagian besar orang Jawa.

Lalu nama kamu sendiri siapa? Tukijan, Tukimin, atau Tukijem atau Tukinah?. Bukan, kamu tanpa nama, sebutan kamu adalah Roh yang diberi kewajiban menghamba bersama empat saudara kembarmu. Juga diberi tugas menjadi utusan, agar memperbaiki dan menjaga taman yang bernama dunia atau jonoloko.

Jangan salah paham, saudara kembar itu menyatu dengan dirimu, tidak bisa dihilangkan salah satu, Itu makna paham keblat papat limo pancer. Kamu adalah Sang Pancer yang harus mengharmonisasikan seluruh kekuatan itu. 

DUA
Saudara kembar pertama bernama Amarah, sepanjang itu boleh diberi nama. Dia sahabatmu yang memberitahu, bahwa kamu tidak bisa hidup sendiri sebagai makhluk soliter. Kamu perlu teman, kamu perlu bermasyarakat. Penampakan Amarah adalah merah. Dalam warna  itu ada api kehidupan. Selama darah kamu itu belum beku, pertanda kamu belum mati. Amarah berkedudukan di kutub utara. Itu sebabnya manusia Jawa yang mati selalu dikebumikan membujur ke utara.

Saudara kembar kedua namanya Aluamah, penampakanya hitam. Dia berada di arah matahari terbit. Kerjanya mendorong kamu untuk menjadi pemberani, termasuk berani membunuh pada saat yang tepat, dalam berperang misalnya. Bumi adalah sifat saudaramu yang kedua. Artinya, kamu tidak akan berumur panjang, tanpa memakan sari-sarinya bumi. 

Supiyah, itu nama saudara kembarmu yang ketiga. Penampakannya kuning, berkedudukan menghadap ke kutub utara. Dia menyebabkan kamu memiliki kecintaan terhadap harta benda secara berlebihan. Supiyah itu memiliki sifat udara. Seumur hidup sebab itu kamu terfasilitsi udara.

Saudara yang keempat adalah Mutmainah.  Wujudnya putih. Dia saudara kembarmu yang memberimu kekuatan istikomah. Hanya tunduk dan takut kepada Alloh SWT, tidak kepada yang lain. Wujudnya putih. Dia memiliki karakter air. Kamu tidak bisa mengingkari dalam dirimu terdapat 80% elmen air. Posisi Mutmainah berada di arah matahari terbenam. Jangan usil bertanya, kenapa sebagai muslim kalau sholat musti mengahap ke barat. Itu pemikiran Jawa, yang tidak banyak diketahui oleh sebagian besar orang Jawa.

Lalu nama kamu sendiri siapa? Tukijan, Tukimin, atau Tukijem atau Tukinah?. Bukan, kamu tanpa nama, sebutan kamu adalah Roh yang diberi kewajiban menghamba bersama empat saudara kembarmu. Juga diberi tugas menjadi utusan, agar memperbaiki dan menjaga taman yang bernama dunia atau jono loka. Taman giri loka dan endro loka, bukan tugas manusia seperti kamu.

Jangan salah paham, saudara kembar itu menyatu dengan dirimu, tidak bisa dihilangkan salah satu, Itu makna sebutan keblat papat limo pancer. Kamu adalah Sang Pancer yang harus mengharmonisasikan seluruh kekuatan itu.
Lalu apa hubungannya antara tembang Pucung dengan keblat papat limo pancer?  Nek ini rodo angel. 

TIGA
Transkrip rekaman pinisepuh itu saya baca berulang-ulang. Paparannya cukup gamblang. Menjadi tahu, kalau aku yang anak tunggal ini ternyata punya saudara kembar empat, se ayah seibu.    Semakin kudalami semakin aku penasaran. 

Dalam tembang Pucung yang satu pupuh terdiri dari lima baris itu tersimpan ilmu luar biasa dahsyat. Ada teman yang menganalisis secara jarwo dosok. Ilmu, kata temanku, mustahil kalau belum ketemu. 

Pucung itu pelajaran ‘mati rasa’, mati sak jeroning urip. Boleh juga itu dikatakan perang. Coba perhatikan, akhir tembang Pucung berbunyi setya budya pangekesing dur angkara.

Demikian kata pinisepuh yang belakangan aku ketahui bernama Ki Sodron yang pernah tinggal di tepian Kali Bening atau Kali Oya, sungai terbesar dan terpanjang di Gunungkidul.

Mati sak jeroning urip kok disebut perang Ki? Saudara kembar empatku itu kan energi yang tidak boleh ditiadakan. Perang berarti harus membunuh mereka, membunuh Amarah, Aluamah, Supiyah dan Mutmainah.

Aku berbeda pemahaman. Tetapi itu sebatas kiat untuk memancing agar lebih jauh Ki Sodron memaparkan pengertian mati sak jeroning urip.
Kamu jangan salah tafsir. Perang jangan selalu diartikan  membunuh. Menaklukkan itu merupakan esensi perang.

Aluamah adalah Sang Pemberani. Dia bisa juga disebut Sang Penakluk. Sementara Supiyah adalah sosok ketamakaan terhadap segala hal yang bersifat duniawi. 

Sebagai Roh, kamu harus memanfaatkan energi Aluamah untuk mengurangi ketamaan terhadap harta benda. Ingat kamu juga punya energi  Amarah yang di dalamya ada api kehidupan yang menyala tanpa disulut. Memanfaatkan energi Aluamah secara bersamaan dengan energi Amarah  mengendalikan Supiyah inilah yang dimaknai perang atau mati sak jeroning urip. 

Kamu harus paham, penaklukan Supiyah oleh Aluamah dan Amarah itu demi keseimbangan atau keselarasan  menuju Mutmainah. 

Dengan kata lain, kamu sebagai Roh harus menang dalam mengola energi empat perkara. Roh yang berhasil mengelola energi empat perkara  itulah yang disebut Roh yang memiliki Cahaya. Dalam konsep kejawen disebut manunggaling kawulo lan Gusti. Dan   Cahaya yang berada dalam dirimu itu tidak lain adalah Sang Pemberi Hidup, Alloh SWT. 

Tuhan berada dalam dirimu merupakan terjemahan bebas dari konsep ngelmu iku kelakone kanthi laku. Kamu tidak bakal memiliki cahaya tanpa nglakoni perang.

Aku melongo demi mendengar uraian Ki Sodron. Ilmu yang kudapat darinya bertambah banyak, sementara penasaranku makin menggila, karena terlalu banyak yang harus kutanyakan kepadanya. 



EMPAT

Ki Sodron begitu enak menceriterakan bagaimana melakukan mati sak jeroning urip bersama dua orang cantrik buron polisi. Gatot dan Thiwul demikian nama samaran dua cantrik tersebut. Mereka pemakai sekaligus  pengedar barang terlarang narkoba psikotropika.

Gatot dan Thiwul diajari cara berperang, diajari cara membunuh, diajari  cara menaklukan, diajari teknik mengelola empat saudara kembar, dengan cinta, bukan dengan benci dan brutal. 
   
Gatot dan Thiwul adalah saudara sepupu. Lebih dari sepuluh tahun mereka mengalami ketergantungan pada narkoba dan psikotropika. Orang tua mereka sudah habis-habisan. Lolos dari kejaran polisi karena mereka sengaja hanyut diri di Kali Oya saat banjir besar.

Kala itu Ki Sodron sedang berada di beranda Padepokan. Sekitar pukul 21.00 WIB. Gatot dan Thiwul berjalan tertatih setelah 2 jam bergulat dengan derasnya arus Sungai Oya.
 
Terang-terangan mereka menuturkan riwayat terdamparnya di kedung Watu Sipat karena sengaja melompat dari jembatan Watu Sigar  menghindari kejaran polisi.

Kamu lihat sendiri,  dua tahun mereka di padepokan hidup normal, bahkan kesehatanya tidak kalah dengan kamu. Tubuhnya kekar dan besar tidak sekurus saat mereka tiba. 

Mereka begitu rajin menanam sayuran untuk kebutuhan makan sehari-hari.

Ki Sodron membeberkan dari a sampai z, bagaimana sejarah Gatot dan Thiwul menghilangkan ketergantungan obat terlarang.

Karena manusia itu 80 % terdiri dari elmen air, kata Ki Sodron, selepas subuh sampai ayam keluar dari kandang, mereka berkewajiban berendam. Ini memperkuat energi Mutmainah untuk menaklukan syahwat Supiyah yang mendorong kepada ketergantungan terhadap narkoba. 

Masuk ke air di subuh hari dibutuhkan keberanian. Gak perlu khawatir mereka punya teman Amarah. Mereka tidak akan mati terendam, karena mereka masih bebas menghirup udara.

Ini Terapi tanpa obat. Awalnya mereka menolak namun setelah mereka merasakan pengaruhnya, mereka terbiasa. Sudah sembuh total  pun tiap pagi mereka masih suka berendam di air.

Begutu Ki Sodrun mengajarkan kepada mereka, bagimana seseorang  melawan kebrutalan syahwat kebendaan. Harus dengan cinta, bukan dengan benci. Kalau mereka bercita-cita untuk cepat mati, langkahnya harus mencintai hidup. Gairah untuk hidup itu merupakan bagian tak terpisahkan dari gairah untuk mati.

Membangun jiwa-jiwa yang malang harus dengan kelembutan. Tidak cukup seperti polisi, tangkap dan bui. Melawan gembong narkoba tidak cukup dengan  cara dor... di Nusa Kambangan. Menghabisi koruptor tidak bisa hanya dengan otot KPK.

Mencabut nyawa itu bukan hak manusia, bukan pula hak presiden. Mentri kematian dari dulu sampai sekarang belum berubah masih Jendral Izroil. 

Menghabisi pecandu dan gembong narkoba, melibas koruptor, menggepuk pelaku pungli, memang dengan hukum, tetapi mesti dibarengi dengan kebudayaan. Dengan hukum saja, hasilnya mati satu tumbuh seribu. Hukum yang nada-nadanya tumpul perlu ditmbah peluru yaitu dengan Gelombang Cinta, menyatunya Roh bersama Amarah, Aluamah, Supiyah dan mutmainah.
Manusia yang dalam dirinya ada cahaya, dipastikan dia bermanfaat bagi orang lain dan seluruh isi jagat raya. Di dalam dirinya ada Cinta.

Kendalnya, mencintai gadis berparas buruk, tak segampang mencitai iblis berwajah menor.

LIMA

Ki Sodron kedatangan tamu. Di pringgitan Padepokan Watu Sipat  dicecar pertanyaan sangat sederhana. Bagaimana menjelaskan bahwa aksara Jawa jumlanya hanya 20, berbeda dengan huruf Latin ada 26. Apa pula alasannya, aksara Jawa dikelomopokan 5-5-5-5, sementara huruf Latin 7-7-7-5.

Kuncung, pemuda  yang mulai menginjak dewasa itu melempar pertanyaan berbobot seperti tanpa beban. Padahal, menurutku itu  berat banget. Soripto, Pakar kejawen  yang duduk di sebelahku pun sempat geleng-geleng.

Lima, kata Ki Sodron, itu merupakan angka  penuh misteri. Panca Sila, lima. Kalimasada, pusaka yang dimiliki oleh lima kesatria. Tempat tinggal manusia di alam Janaloka juga lima, lor, wetan, kidul, kulon dan tengah. Hari pasaran, Kliwon, Legi, Pahing, Pon serta Wage, lima. Rukun Islam  juga lima.

Itu semua bukan kebetulan. Cara menghapal huruf Roma yang lebih dikenal dengan huruf Latin dikelompokkan: ABCDEFG, HIYKLM, OPQRSTU, VWXYZ. Meski dihapal dengan pengelompokan 7-7-7- ahirnya ditutup dengan pengelompokan 5.

Untuk mengekspresikan gagasan, orang Jawa lebih efisien, hanya membutuhkan 20 aksara: ha-na-ca-ra-ka; da-ta-sa-wa-la; pa-dha-ja ya-nya; ma-ga-ba-tha-nga.

Pemahaman umum aksara Jawa disepkati memiliki  makna simbolik: ana utusan, datan suwala, pada sektine, sampyuh matine.

Esensi aksara Jawa ciptaan Aji Saka ada pada kata  ‘utusan’. Sebagai Roh yang diberi wadag berupa daging tulang darah dan lainnya, kamu adalah utusan yang mengemban tugas: paring teken wong kang kalunyon, paring obor wong kang kepetengen.

Salah mengartikan tugas, apalagi lalai menjalankan tugas, kamu tidak lebih dari bathang alias bangkai hidup. Urip ning mati. Karyamu tidak bermanfaat pada siappapun termasuk pada dirimu sendiri.

Supaya hidup saya berfaedah, harus bagaimana Ki Sodron? Kuncung anak dari Goa Langse itu memotong penjelasan.

Kamu harus berani balik kanan seperti lakunya aksara Jawa, dibaca dari kiri ke kanan layaknya membaca bahasa Arab: nga-tha-ba-ga-ma, nya-ya-ja-dha-pa, la-wa-sa-ta-da; ka-ra-ca-na-ha.

Ini kulhu balik. Bisa membuat kamu jauh dari sengkala. Tidak hanya menjadi mayat hidup atau zombie.

Itu pasemon. Setiap hari, lima kali kamu meminta dibukakan jalan yang lurus, dengan melafat Ihdinas shiraathal mustaqiim. 

Hanya pada rel yang lurus itu hidup kamu menjadi bermakna untuk sesama, juga bermanfaat untuk dirimu sediri.

Tetapi jalan atau rel kereta api kadang berkelok Ki Sodrun. 
Kuncung yang kurus dan agak dekil itu membantah.

Itu dinamika, dialetika juga romantika. Pasti kamu tahu nak, rel kereta api itu 80 persen lurus. Lagian kamu tahu to, bahwa kamu bukan wali, bukan nabi, bukan pula rosul.

Itu tidak penting. Orang lain suka kepadamu karena tubuhmu bercahaya. Nama pemberian kedua orang tuamu siapa?

Noor Abadi Ki.

Nama yang bagus, Cahaya yang langgeng. Sudah sekarang kamu mandi, sholat asar.

Kuncung mengambil air wudlu, usai sholat dia minta pamit. Hujan masih berderai. Mau aku antar sampai ke jalan aspal dia menolak. Kuncung memilih jalan di air. 

Astagfirulloh, dia berjalan di atas permukaan Oya yang  banjir, laiknya berjalan di tanah. Aku berekedip, Kuncung hilang dari pandangan, seperti ditelan arus coklat merahnya Sungai Oya.

Kuncung datang ke Padepokan Watu Sipat minta kepada Ki Sodron untuk dibantu membunuh Supiyah dengan gelombang cinta-NYA
 



Soeharto-SBY ‘Memendam Kebusukan Politik’



Munir. ilustrasi net

Terkait dengan kekuasaan, negeri ini diperolok publik, bahwa tidak tertib dalam hal mengamankan arsip nasional. Soeharto dan Bambang Susilo Yudhoyono (SBY), dianggap teledor besar. Hilangya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) serta Laporan Tim Pencari Fakta (TPF) terbunuhnya Munir aktifis Kontras  menyebabkan   sejarah negeri ini menjadi gelap.

Soeharto kehilangan atau menghilangkan Supersemar, para tokoh negeri ini sepertinya cuek dan menutupi realitas. Sementara menurut pengakuan Soeharto, Supersemar itu dibuat rangkap enam. Logikanya hilang satu masih lima. Kalau yang asli lenyap, tindasan yang dibawa oleh 5 orang tokoh kala itu pastinya masih bisa ditemukan.

Pertanyaan untuk SBY sama: dia kehilangan atau mengilangkan TPF? Saat ini terkait  TPF, yang terkena getah adalah Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Pengakuan Asisten Deputi (Asdep) bidang Hubungan Masyarakat (Humas) Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) Masrokhan yang menegaskan, bahwa Setneg tidak memiliki, menguasai, dan mengetahui keberadaan dokumen Laporan Akhir Tim Pencari Fakta Kasus Meninggalnya Munir (Laporan TPF) membuat publik tercengang.

Negara ini menyimpan dokumen ekonomi seperti  utang luar negri sangat tertib. Mendokumentasikan ‘penggadaian’ tambang  emas di Papua super rapi.
Ironis, ketika harus menyimpan dokumen politik, negeri ini sangat ceroboh. Terus? Tak perlu basa-basi, penguasa yang saat itu memerintahkan  menyembunyikan Supersemar serta  Laporan TPF Munir, pasti juga  menyembunyikan ‘kebusukan’ tertentu.

Publik berharap, Jokowi tidak suka menyembunyikan sesuatu. Dia mudah-mudahan konsisten dengan Nawa Cita ke 4, item ke 9. Di sana Jokowi berkomitmen menghormati HAM dan penyelesaian secara berkeadilan terhadap kasus-kasus pelanggaran pada masa lalu.

DHANDHANG-GULA NALISIR

Siji Gunungkidul  ing mangsa kawuri  Alas wingit 'king tebih sinawang Sato galak panunggune. Jalma nerak keplayu Asri wana caketing ati ...