Ikuti soleram si anak manis, jangan dilewatkan peristiwa yang ditulisnya, karena enak dibaca
Rabu, 30 Juni 2021
ORANG BILANG LOCKDOWN ITU MENAKUTKAN
Selasa, 29 Juni 2021
BERSAMA SRI SULTAN: DIY TIDAK AKAN SEMATI TUGU
Kebijakan lockdown akan terasa berat bagi warga DIY yang tinggal di perkotaan. Sebaliknya tidak begitu berdampak bagi warga yang tinggal di pedesaan.
Mobilisasi warga kota ditutup selama 15 hari misalnya, pasti menimbulkan persoalan sosial yang cukup serius, terutama persoalan bagaimana mencari makan untuk mempertahankan hidup.
Bagi orang yang memiliki rezeki lebih, tidak akan ada persoalan karena logistik cukup. Berbeda halnya dengan warga yang rejekinya pas-pasan.
Hidup di pedesaan akan relatif lebih aman karena warga bisa memakan dedaunan buah-buahan atau apapun yang ada di pekarangan maupun di tegal mereka. Ini catatan bagi mereka yang memang memiliki tegal pekarangan. Yang tidak punya biasanya ada uluran tangan dari para tetangga.
Resiko terberat dari lockdown yang kemungkinan akan dilaksanakan pemerintah DIY adalah kelaparan bakal terjadi di berbagai tempat.
Namun demikian Lockdown tidak akan sampai membuat DIY semati tugu meminjam ungkapan Chairil Anwar.
Bila kelaparan itu benar terjadi di berbagai tempat maka itu harus dipahami sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang bisa berpikir.
Cepat atau lambat warga DIY menunggu waktu bakal dilakukannya lockdown, semua bergantung pada kecepatan Covid-19 melakukan penetrasi.
Tanda-tanda kemungkinan lockdown di dalam Alqur'an Surat Al-Baqarah Ayat 155 yang bunyinya, "Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."
Lockdown menurut Al-Qur'an adalah kabar yang menyenangkan, dan bukan kabar yang menyedihkan.
Dari sebuah pertemuan rahasia tanpa tatap muka Sri Sulan Hamengku Buwono Ke-10 berpesan, warga DIY harus saling menguatkan hati, mempertebal kesabaran, saling mengolah pikiran, saling menasehati, dan bergandengan dalam bermunajat.
Dalam lockdown, kalau itu memang diputuskan, warga DIY tetap bersama Sri Sultan Hamengku Buwono Ke-10.
Lebih dari sekedar bersama Raja Jogja, warga DIY juga bersama Raja Penguasa Alam Semesta yang kedekatannya sedekat urat nadi manusia.
Menghadapi lockdown, tidak ada yang harus ditakutkan karena Raja Jagat Raya itu berada di dekat orang-orang beriman, "Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya".
(Bambang Wahyu Widayadi)
Senin, 28 Juni 2021
PANCASILA ITU KHILAFAH
Meski berbentuk republik tetapi sejak 17 Agustus 1945 Indonesia menjalankan sistem khilafah. Tafsir ini bebas dibantah, tetapi faktanya Pancasila telah disepakati sebagai pandangan hidup serta dasar negara yang penerapannya adalah khilafah.
Substansi dan bukti bahwa khilafah itu ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia cukup kongkret.
Indonesia mengakui sekaligus melindungi enam agama mulai dari Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Kong Hu Chu, hingga Penganut Aliran Keyakinan.
Elemen agama dan aliran keyakinan itu payung hukumnya adalah sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Secara legal formal pengakuan itu diikat oleh Pasal 29 Ayat 1 UUD 1945. Penerapan khilafah secara eksplisit ada di konstitusi.
Khilafah itu bukan soal kepemimpinan belaka, tetapi sebuah sistem yang rohnya ada di dalam Surat ke-109 Al-Kafirun, Ayat 6 yang bunyinya, "Lakum diinukum wa liya diin. Makna ayat tersebut untukmu agamamu, dan untukku agamaku)."
Di Indonesia seseorang mau beragama Islam boleh, mau Kristen, mau Katolik, mau Hindu, mau Budha, mau Kong Hu Chu, juga tidak dilarang. Ini namanya khilafah.
Itu fakta yang terjadi di Indonesa. Perkara ada riak kecil ketika Umat Nasrani mendirikan Gereja di satu tempat kemudian diprotes, itu mencerminkan bahwa yang protes tidak paham substansi Surat Al Kafirun Ayat 6.
Sila kedua Perikemanusiaan yang adil dan beradab. Tidak satu pun agama yang diakui di Indonesia yang ajarannya menyimpang dari perikemanusiaan. Tokoh yang ada rejeki lebih kemudian membantu warga yang kekurangan air bersih di Gunungkidul itu ajaran perikemanusiaan, berarti khilafah.
Persatuan Indonesia, sila ketiga menjadikan masyarakat kokoh bahu membahu, bergotongroyong memperbaiki rumah, jalan, bendungan dan yang lain itu juga kilafah.
Setiap hari manusia Indonesia menjalankan sanatullah menjalankan khilafah kok ada yang bilang tolak khilafah. Itu nalarnya bagaimana.
Rakyat menitipkan hak suaranya ke DPR. Mereka percaya kepada Majelis, meski kadang dongkol juga karena Majelisnya re rewel, tetapi rakyat tetap sabar, ikhlas menerima kebijaksanaan yang diambil di dalam sidang permusyawaratan. Apa ini bukan khilafah?
Tetangga dekat terkena Covid-19 resikonya diwajibkan isolasi mandiri. Karena tidak bebas keluar rumah, maka tetangga yang sehat dipandu Dukuh setempat mengirim makanan bergizi, itu implementasi keadilan sosial. Masih mau bilang ini tidak khilafah?
Secara spesifik khilafah itu tunduk pada hukum alam. Tidak satupun manusia yang bisa lepas dari syariat alam.
Hidup di Indonesia itu apa yang tidak kilafah. Sebagai bangsa, mestinya bangga dengan Pancasila yang diletakkan di ujung Kemerdekaan.
(Bambang Wahyu Widayadi)
SENJATA PAMUNGKAS MENGHADAPI PANDEMI
Minggu, 27 Juni 2021
UMAT ISLAM SEDANG MENUNGGU LANGIT PECAH
Hampir seratus tahun, sejak 1924, Umat Islam tanpa pemimpin. Jumlah umat Islam banyak tetapi tidak diperhitungkan. Selama 97 tahun umat Islam menghadapi berbagai tekanan. Di tahun 2025 Umat Islam akan keluar dari himpitan berat.
Setidaknya begitu kesimpulan ceramah Ustad Zulkifli Muhammad Ali, Lc. MA dalam kanal YouTube berdurasi 18 menit 50 detik yang beredar di media sosial.
Dia mengutip ucapan Nabi Mohammad SAW yang menyatakan bahwa umat beriman di dunia ini hanya berada di lima fase kepemimpinan.
Menurut Ustad, fase kepemimpinan dunia itu antara lain fase Kenabian, fase Kekalifahan, fase Kerajaan, fase Tanpa Kalifah, dan terakhir fase Kilafah Islamiyah.
Fase pertama adalah fase Kenabian yang dipimpin Nabi Mohammad, dan itu berakhir setelah Rasululloh wafat.
Kemudian, lanjut Ustad, disusul fase Kekhalifahan yang lamanya hanya 30 tahun, setelah Ali bin Abi Tholib meninggal.
Ustad Zulkifli Muhammad Ali, Lc. MA melanjutkan penjelasannya, bahwa dalam fase ketiga, umat Islam dipimpin para Khalifah dalam bentuk kerajaan. Dan kepemimpinan raja melahirkan dinasti seperti Bani Ummayah, Abbasyiah juga dinasti Saud.
Fase umat Islam dipimpin raja, kata Ustad Zulkifli Muhamad Ali, sudah berakhir tanggal 3 maret 1924.
"Berikutnya kita masuk fase keempat yaitu fase umat Islam tidak dipimpin oleh seorang khalifah pun," tandasnya.
Pada fase ini Nabi mengatakan, terang Zulkifli, Islam jadi pecundang. Kaum muslim menjadi bulan-bulan. Jumlah mereka banyak tapi tidak berharga dan tidak diperhitungkan.
Umat Islam menghadapi tekanan politik, ekonomi, kesehatan, bencana alam dan persolan sosial lainnya.
Pada saat umat Islam tanpa pemimpin, klimaknya terjadi bersamaan dengan munculnya ujian berat bencana mewabahnya penyakit menular yang menyebar ke mana-mana.
Negara tidak mau perekonomian ambruk, tetapi penanggulangan pandemi tidak kunjung teratasi. Umat Islam kebingungan.
Tahun 2025, menurut Zulkifli Muhammad Ali, masih mengutip sabda Rasululloh, umat Islam akan masuk ke fase terakhir. Umat Islam akan dipimpin oleh Khilafah Islamiah.
Tetapi tidak lama hanya 9 tahun," terang dia, dalam ceramahnya pada tahun 1437 Hijriah atau 2017 silam.
Umat Islam dalam tempo 50 tahun ke depan dihitung dari 1437 Hijriah, menurutnya tinggal menunggu angin lembut yang berasal dari Negeri Zaman membungkus dunia.
Seluruh orang beriman, menurutnya oleh Allah SWT dengan angin lembut itu digulung secara serentak alias dimatikan. Dalam bahasa Al Qur'an disebut Kiamat.
Penjelasan Ustad Zulkifli Muhamad Ali memang diingatkan oleh Surat 25 Al-Furqan Ayat 25.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, "Dan (ingatlah) pada hari (ketika) langit pecah mengeluarkan kabut putih dan para malaikat diturunkan (secara) bergelombang."
Umat Islam saat ini sedang menunggu langit itu pecah.
(Bambang Wahyu Widayadi)
Rabu, 23 Juni 2021
KEHEBATAN BUPATI SUNARYANTA, TIDAK SEPERTI YANG SAYA BAYANGKAN
Gunungkidul mengejar pertumbuhan ekonomi melupakan kemerataan adalah omong kosong.
Pertumbuhan ekonomi adalah identik dengan rejeki massal yang diturunkan dari langit, meskipun hal itu tidak pernah diakui oleh sejumlah pemimpin dunia yang angkuh dan sombong. Fakta di lapangan menunjukkan, dompet pejabat gemuk, dompet rakyat kurus. Pertumbuhan ekonomi tinggi tidak serta merta mencerminkan kemerataan.
Untuk diketahui, pertumbuhan ekonomi itu bisa saja dihalangi, bahkan diberhentikan sama sekali oleh Yang Maha pembagi Rejeki.
Isyaratnya sangat jelas, "Atau siapakah yang dapat memberimu rejeki jika Dia menahan rejeki-Nya? Bahkan mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri (dari kebenaran," demikian sebuah keputusan yang tertulis dalam Al-Mulk, Ayat 21.
Tetapi Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) tetap kukuh memproyeksikan bahwa ekonomi Indonesia akan tumbuh 4,9% pada tahun 2021.
Berdasarkan survei OECD pertumbuhan ekonomi Indonesia akan kembali naik menjadi 5,4% pada tahun 2022.
Sekretaris Jenderal OECD Angel Gurria mengatakan, pemulihan ekonomi Indonesia akibat pandemi akan berlangsung secara bertahap dan tergantung pada penanganan di sektor kesehatan.
"Indonesia sedang menghadapi tantangan terberatnya sejak krisis 1997. Dengan reformasi yang tepat, Indonesia dapat memanfaatkan energi dan bakat dari populasi mudanya dan membuat ekonomi bergerak maju lagi," kata Sekretaris Jenderal OECD pada OECD Economic Review of Indonesia 2021, Kamis 18-3-2021.
Proyeksi di atas adalah kesombongan manusia yang luar biasa besar, sementara realitasnya Indonesia jauh dari tanda-tanda ekonomi itu akan membaik.
Satu setengah tahun negeri yang kaya raya akan sumber daya alam ini diganyang pandemi. Pemimpin bangsa tidak sanggup berbuat banyak, kecuali kebingungan kemudian sibuk membuat regulasi dan berputar-putar tidak jauh dari protokol kesehatan.
Mengapa di masa pandemi seorang pemimpin selalu bingung mengatasi persoalan pertumbuhan ekonomi? Karena di hati kecilnya biasa mendebat sebuah keputusan, padahal nenganalogi bahasa hukum, keputusan Pemilik Alam ini adalah inkracht (inkrah).
"Tidakkah kamu memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim mengenai Tuhannya karena Allah telah memberinya kerajaan (kekuasaan). Ketika Ibrahim berkata, "Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan," dia berkata, "Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan." Ibrahim berkata, "Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat." Maka bingunglah orang yang kafir itu. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim." dikutip dari Al-Baqarah, Ayat 258.
Mendebat atau menyangkal sebuah keputusan Sang Pemilik alam semesta, terjadi bersamaan merajalelanya wabah. Ini sesungguhnya tidak menguntungkan.
Turunnya pandemi ke dunia sepatutnya dijadikan ajang mawas diri, betapa manusia telah banyak berbuat melampaui batas. Pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi tidak memenuhi syarat kemerataan.
Di Indonesia, kesenjangan ekonomi sedemikian nyata. Hanya sedikit orang memiliki uang trilyunan rupiah, dan terlalu banyak warga yang dompetnya kosong melompong.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 4,5% di tahun 2022 sulit untuk terealisasi, termasuk pertumbuhan ekonomi Gunungkidul.
Salah satu Indikator pertumbuhan ekonomi terletak pada sumbangan sejumlah sektor terhadap PDRB.
Di Gunungkidul, berdasarkan laporan yang terdata tahun 2020 sektor pertanian menyumbang PDRB sebesar 24,67%.
Di bawah kepemimpinan Bupati Sunaryanta, saya tidak yakin sumbangan pertanian terhadap PDRB kemudian naik menjadi 50%.
DHANDHANG-GULA NALISIR
Siji Gunungkidul ing mangsa kawuri Alas wingit 'king tebih sinawang Sato galak panunggune. Jalma nerak keplayu Asri wana caketing ati ...
-
Debat di depan publik yang digelar KPU Gunungkidul di TVRI Yogyakarta jam 19.30 untuk putaran pertama bagi Paslon Bupati dan Wakil Bupati, j...
-
Bacalon Bupati dari jalur perseorangan, Kelick Agung Nugroho merasakan, berkas dukungan perbaikan babak kedua tidak banyak yang eror sepe...