Senin, 15 Juni 2015

SHARING ANGGARAN ORANG MISKIN SANGAT RENDAH







Pengentasan kemiskinan di Gunungkidul
sangat lambat. Penyebabnya, sharing APBD untuk keperluan itu terlalu rendah.





Jumlah rumah tangga miskin (RTM)Kabupaten Gunungkidul, Dibandingkan
dengan Bantul, Kulonprogo, Sleman dan Kodya, adalah paling besar. Sebelum diperbaharui ada 80.355 RTM. Aneh, sharing Pemkab  pada program kemiskinan, salah satunya Program Keluarga Harapan (PKH) sangat minim.





Edi Susilo, anggota DPRD Gunungkidul dari fraksi Partai Amanat
Nasional (PAN) menyoroti hal itu, pada sela-sela kerja bakti bersama masyarakat Nglipar, Minggu 14/6/2015.




Berdasarkan catatan yang dia kumpulkan, hingga saat ini pemerintah
kabupaten, melalui Disosnakertrans memberdayakan 45 pendamping PKH. Mereka ditugasi memantau PKH yang setiap 3 bulan sekali menerima bantuan dari anggaran APBN.




"SDM pendamping cukup tersedia, jumlah RTM jelas diketahui masih 80
ribu lebih. Pertanyaan saya, apa alasannya, Pemkab tidak juga mengalokasikan anggaran pada APBD  untuk mengimbangi APBN? Bahasa normatifnya, Pembkab tidak mau sharing. Apa argumentasinya," ujar Edi Susilo, geram.




Dia menilai, Pemkab terlalu enak, mengentaskan kemiskinan dengan cara
menggantungkan diri pada APBN. Menurut dia, untuk mempercepat pengurangan angka keiskinan, Pemkab mau tidak mau harus menyisihkan sebagian APBD guna mengimbangi APBN.
Ilustrasi, Net


"Saya belum meliha
t Pemkab ada goodwil (niat baik) untuk keperluan pengentasan kemiskinan. NJagake endoke si blorok (menggantungkan diri pada program pusat) pengentasan kemiskinan akan sangat lambat dan tertatih tatih," paparnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Menurut Anda

DHANDHANG-GULA NALISIR

Siji Gunungkidul  ing mangsa kawuri  Alas wingit 'king tebih sinawang Sato galak panunggune. Jalma nerak keplayu Asri wana caketing ati ...