Jumat, 11 September 2020

Profesor Sutrisna Tandaskan Panca Misi, DPC Gerindra Ganti Sembilan Ketua PAC

Prof. Sutrisna Wibawa
Profesor Doktor Sutrisna Wibawa dan Mahmud Ardi Widanto, Calon Bupati dan Wakil Bupati Gunungkidul 2021-2024 bertekad membawa Gunungkidul maju dan berbudaya di abad Samudera Hindia melalui lima panca misi. Sementara itu, Ketua DPC Gerindra Purwanto, ST jengkel, sembilan Ketua PAC diganti total.

"Kami ingin  Gunungkidul Tanggap, Gunungkidul Cerdas, Gunungkidul Sehat, Gunungkidul Kreatif, dan Gunungkidul Harmonis," kata Prof. Sutrisna Wibawa, kepada wartawan pada jumpa pers di RM Numani, Karangrejek, Wonosari Jum'at siang 11/9/20.

Panca misi itu menurut Prof. Sutrisna Wibawa dirajut dalam struktur program yang terstruktur, utuh, tidak terpenggal-penggal.

Diakuinya bahwa yang Profesor sampapaikan hari itu tidak ada yang baru. Dalam silaturahmi tersebut dia hanya kembali nempertegas sikap, yang sebelumnya pernah dipaparkan.

Ditanya soal pengunduran dirinya dari jabatan Rektor UNY dan hasil tes kesehatan, Prof. mengaku, surat sudah sampai ke kementerian Pendidikan, tinggal menunggu yang ditugasi sebagai pelaksana harian.

"Soal tes kesehatan, tentu saja saya merasa sehat. Tetapi saya tidak ada kapasitas untuk menjelaskan hasil test," ujarnya.

Menghitung tokoh yang telah dihubungi relawan Kadung Tresna, menurut Prof. telah mencapai 1.118 Padukuhan dari total 1.431 Padukuhan di Gunungkidul, di samping 160.000 konstiuent partai pengusung, baik PAN, PKS, DEMOKRAT maupun  GERINDRA.

Menanggapi kampanye yang pesertanya dibatasi maksimal 100 untuk rapat terbuka, sekali dalam satu putaran dan 50 untuk pertemuan tertutup, Sutrisna Wibawa, taat regulasi yang dikeluarkan KPU.

Di tempat yang sama, Ketua DPC GERINDRA, Purwanto, ST menyuarakan kejengkelannya, soal klaim 13 PAC Gerindra yang delarasi mendukung H. Sunaryanta, Senin 7/8/20 silam. 
Purwanto, ST
"Bukan 13, tetapi 9 PAC. Mereka sudah kami ganti, bukan kami pecat. Yang memiliki kewenangan memecat adalah DPP," tegasnya.

PAC yang Purwanto ganti antara lain: Ponjong, -Soni;
karangmojo -Joni sukiyono; Rongkop -Umar Sayid;  Paliyan - Sumari;
Saptosari -Ngadiko;
Panggang -Sugito;
Ngawen  -Sugino;
Nglipar -Bagong Hermanto; dan
Semanu -Sutrisno.


(Bambang Wahyu Widayadi)

Kamis, 10 September 2020

USIA CALON BUPATI GUNUNGKIDUL YANG BERTARUNG DALAM PILKADA SERENTAK 2020

Calon Bupati Gunungkidul yang bertarung pada Rabu Wage, 9 Desember 2020, paling tua Immawan Wahyudi, kelahiran Banjarnegara, yang termuda adalah H. Sunaryanta, putra Gunungkidul. 

Dikutip dari berbagai sumber, Dr. Drs. H. Immawan Wahyudi, MH, lahir di Banjarnegara 5 Januari 1957. Pada hari pencoblosan berusia 63 tahun, 11 bulan delapan hari. 
Immawan Wahyudi
Urutan berikutnya Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, lahir di Gunungkidul, 1 September 1959. Pada hari pencoblosan, profesor berumur 61 tahun, tiga bulan delapan hari. 
Sutrisna Wibawa
Selanjutnya Bambang Wisnu Handoyo, lahir di Yogyakarta, 03 Oktober 1960. Hingga hari pemungutan suara, Bambang Wisnu Handoyo berusia 60 tahun, tiga bulan, lebih 6 hari. 
Bambang Wisnu Handoyo
   
Terakhir, paling muda H. Sunaryanta, lahir di Gunungkidul, Senin Legi 9 November 1970. Usia saat hari pencoblosan, Rabu Wage, 9 Desember 2020, tidak kurang dari 50 tahun lebih 30 hari. 
Sunaryanta
Dari empat petarung tersebut, dua lahir di luar Gunungkidul, dua rivalnya putra daerah. 
 (Bambang Wahyu Widayadi)



E

Senin, 07 September 2020

Deklarasi Gerindra Usung Sunaryanta Berbuntut Perang Urat Syaraf es

Purwanto, ST Deklarasi Pecah belah parpol
Perpecahan Partai Gerindra Gunungkidul mencapai kilmaks. Nadiyono bersama 13 PAC melakukan deklarasi usung Mayor Sunaryanta, di Kwarasan Wetan, Kedungkeris, Nglipar, Gunungkidul, DIY, Senin siang 7/9/20 memicu perang urat syaraf. 

Dewan Penasehat Gerindra Gunungkidul, Ngadiyono menyatakan,   struktur kepengurusan tingkat kapanewon se Gunungkidul minus 5, telah satu suara. Mereka memberanikan diri melakukan deklarasi. 

"Sebab Keputusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerindra tidak sesuai dengan keinginan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dan PAC Gunungkidul," ujar Ngadiyono.  

Sebanyak 13 Pimpinan Anak Cabang (PAC) Partai Gerindra, lanjut Ngadiyono, tetap mendeklarasikan diri mendukung Sunaryanta-Heri Susanto, Bakal Pasangan Calon (Bapaslon) yang diusung Golkar dan PKB. 

Sebagaimana diketahui, Ngadiyono di kepengurusan DPC Gerindra yang baru ditunjuk sebagai Dewan Penasehat, namun dia masih mengklaim sebagai Ketua DPC. 

Sebenarnya dalam tahapan penjarigan calon, kata dia, DPC mengajukan Sunaryanta, namun DPP justru memberikan SK kepada Sutrisna Wibawa-Mahmud Ardi Widanto. 

"SK diplintir, kami dibohongi DPP," kata Ngadiyono ketus.  

Ditanya soal risiko sanksi atas deklarasi tersebut, Ngadiyono mengaku siap menerimanya. Ngadiyono tidak mempedulikan sanksi yang akan diberikan DPP.  

Meski mendeklerasikan diri mendukung Sunaryanta, Ngadiyono dan ratusan orang yang hadir di lokasi acara deklarasi tak mau dibilang membelot. Ngadiyono masih memgklaim bahwa jiwa mereka tetap Gerindra. 

Sementara itu, Sunaryanta menghargai seluruh kader Gerindra yang memberikan dukungan kepadanya.  

"Saya ucapkan terimakasih  yang setinggi-tingginya kepada Partai Gerindra yang hari ini berkumpul dengan semangat yang sama," kata Sunaryanta. 

Terkait deklarasi, Ketua DPC Gerindra Gunungkidul, Purwanto, ST membuat pernyataan terbuka, menyerang  bakal calon Bupati H. Sunaryanta, bahwa memfasilitasi deklarasi adalah melanggar etika berpolitik.  

Purwanto menyatakan  belum  tahu siapa saja  yang hadir, tetapi dia menandaskan Partai Gerindra telah mengusung  Profesor Sutrisna Wibawa. Hal tersebut telah sesuai  perintah  DPP. 

"Jika ada yang mengaku mengusung calon lain itu berarti Partai Gerindra  Gadungan," tegasnya. 

Dia juga menyatakan jika  ada  kader Partai Gerinda yang tidak  tunduk mestinya ada sanksi,  karena  melawan perintah DPP.  

Purwanto menyatakan,  bacalon Bupati yang mefasilitasi kader Gerindra untuk gerakan deklarasi sama dengan memecah belah parpol. 

"Calon  pempin  yg  tdk  pya  etika  politik  memecah  belah  partai. Truss  rakyakte  ambyar," tulis Purwanto, pada aplikasi WhatsApp, Senin petang, jam 17.18 Wib. 

Hadir dalam kesempatan deklarasi tersebut Gandung Pardiman ketua DPD Golkar DIY Heri Nugroho ketua DPD Golkar Gunungkidul, Wakil Ketua DPD Gerindra DIY Widi Handoko, Ketua dan Pengurus 13 PAC Gerindra Gunungkidul, dan sayap organisasinya.

(Bambang Wahyu Widayadi)


Minggu, 06 September 2020

Sunaryanta Berlari Menuju KPU Gunungkidul Dihadang Istri


Mayor  H. Sunaryanta tokoh Kapanewon Nglipar,  anak pasangan suami istri Karsowiyono (86) dan Welas (68) mendaftarkan diri sebagai Calon Bupati Gunungkidul, dengan berjalan dan berlari. Di sebelah barat Simpang Empat Budegan, dia dihadang ratusan Abang Becak dan Diah Purwanti, sang istri. 

Sebelum berangkat, anggota TNI kelahiran Senin Legi tanggal 9 November 1970 ini melaksanakan tradisi sungkeman. 

Dengan merunduk dan merendahkan badan, Sunaryanta meminta doa kepada kedua orang tua. Dia hanya bergumam lirih.  Air matanya pun menetes.  

Diiringi usapan dan tepukan  bahu, Sunaryanta menerima tambahan kekuatan  penuntun, di awal proses meniti jalan rumit di bidang politik menuju orang nomor satu di Gunungkidul. 
video ini, karya Guntur Susilo dkk.

Dari Padukuhan tempat  dia lahir, di Kwarasan Wetan, Kedungkeris, Nglipar, Sunaryanta berjalan kaki hingga jembatan Sungai Oya. 

"Dari atas Kali Oya itulsh, Mayor Sunaryanta berlari menuju Kantor KPUD Gunungkidul," ujar Ketua Tim Sukses, Heri Nugraha, SS (6/9/20). 

Sebelum memasuki halaman KPU, menurut Heri Nugraha,  bapak dua anak ini rencananya transit di lapangan Desa Piyaman, Kapanewon Wanasari, guna berganti pakaian  olahraga ke pakaian resmi. 

Tetapi acara transit itu batal, demikian salah satu anggota Team Pemenangan meralatnya. Mayor Sunaryanta, kata dia, melanjutkan lari hingga pintu gerbang KPUD Gunungkidul. 

Sebelumnya, di sebelah barat Simpang empat Padukuhan Budegan, Mayor Sunaryanta dihadang 150 pengemudi becak bersama Diah Purwanti, istri Mayor Sunaryanta. 

Diah Purwanti satu kilometer menemani sang suami berlari, bersama ratusan pelari pengombyong. Mereka tiba di kantor KPU, bakda sholat Ashar. 

Di halaman KPU, Heri Susanta, Calon Wakil Bupati telah menunggu, bersama Ketua DPD Golkar DIY, Gandung Pardiman, DPD Golkar Gunungkidul, Heri Nugraha, serta Ketua sekaligus jajaran DPC PKB Gunungkidul. 

Prosesi pendaftaran Bapaslon Bupati dan Wakil, Sunaryanta-Heri Susanto di hari terakhir terbilang cukup lancar.  

Persayaratan dinyatakan lengkap. Di akhir acara, Ketua KPUD Gunungkidul, Ahmadi Ruslan Hani, menyerahkan Berita Acara tanda penerimaan berkas pendaftaran. 

(Bambang Wahyu Widayadi)

Sabtu, 05 September 2020

KECETIT ORASI

Kesleo lidah, gagap dan humor politik terjadi dalam deklarasi Kadung Tresna. 

Peristiwa politik   dalam hal ini Deklarasi Calon Bupati dan Wakil Bupati Sutrisna Wibawa - Ardi Widanto sekaligus  Pengukuhan Tim Pemenangan  Kadung Tresna, yang dilaksanakan 4/9/20 di destinasi Wisata Ngingrong, Kalurahan Mula, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul, membuat hadirin sulit untuk tidak tertawa.

Acara yang dipandu penyanyi Campur Sari Kondang, Dimas Tejo begitu rapih dan runtut. Di tengah prosesi, terjadi keseleo lidah, gagap dan sejumlah  humor politik.

Ari Siswanto, Ketua DPD PKS Gunungkidul, saat menyerahkan Surat Keputusan tentang nama Kadung Tresno, dari Koalisi empat partai politik terpeleset menyebut Profesor Dr. Sumpeno, padahal yang dimaksud adalah Profesor Dr. Sutrisna Wibawa.

Di panggung yang sama, Calon Wakil Bupati Mahmud Ardi Widanto, saat melakukan orasi politik seperti tidak percaya diri. Dia gagap menyebut periode masa jabatan pemilihan Bupati dalam Pilkada serentak tahun 2020.

Ardi Widanto memang berbeda dengan Prof. Dr. Sutrisna Wibawa. Mantan Rektor UNY ini fasih menyebut tamu undangan satu demi satu.

Pengamatannya begitu cermat, hingga Untung Santosa pun dia sebut hadir di bagian belakang, padahal seperti diketahui bersama, Ustad Untung Santoso adalah pendukung Deklarasi Immawan-Martanty di Nglanggeran 29 Agustus 2020 silam.

Intelektual Sutrisna Wibawa memang pintar.  orasi politik empat halaman cukup memukau. Secara rinci Profesor Sutrisna Wibawa membedah Gunungkidul dalam rangka menyongsong abad Samudera Hindia.

Seluruh peserta deklarasi tidak kurang dari 750 orang, bahkan lebih. Mereka terpingkal-pingkal ketika H. Totok Daryanto, Bendahara Umum DPP PAN didaulat berpidato.

Sambutannya kocak. Totok Daryanto bahkan menyebut Calon Wakil Bupati itu anak siapa, sontak disambut gelak ketawa. Termasuk dia sempat meledek Sutata yang berjaket PAN tetapi juga berbaju Gerindra.

Deklarasi Kadung Tresna bukan berarti mulus dan sempurna. Di tengah upacara, Dimas Teja menyerukan agar seluruh peserta mematuhi protokol Covid-19. Cuci tangan, mengenakan masker, tetapi kerumunan dan jaga jarak gagal dilaksanakan.

(Bambang Wahyu Widayadi)

Kamis, 03 September 2020

Anak Petani, ke KPU Tanggalkan Mobil

Sunaryanta, berangkat ke KPU tanggalkan mobil

"Mas Sunaryanta dan Mbak Diah, kami tunggu Anda hingga menyentuh garis finis".   
Seruan itu awalnya  berkumandang hanya di padukuhan Kwarasan Wetan, Desa Kedungkeris Kapanewon Nglipar. 

Karena terbawa angin, kini merambat dan menyebar ke 143 Desa, di 17 Kapanewon lain di Gunungkidul.  

Sunaryanta, didampingi istri (Diah Purwanti) menurut rencana bakal mendaftar sebagai Calon Bupati ke KPUD Gunungkidul Minggu 6/9/20 jam 14.00 Wib. tidak naik kendaraan atau mobil, tetapi berlari. 

"Benar, jarak tempuhnya sesuai Google map tidak kurang dari 7,3 Km," ujar Ratno Pintoyo, Ketua Pemenangan Internal H. Sunaryanta, di Kwarasan Wetan, Kamis, 3/9/20.  

Berlari, imbuh Ratno Pintoyo, adalah simbol untuk mengawali alias mengejar ketertinggalan Gunungkidul dari 4 Kabupaten lain di DIY.   

"Berlari, hingga hilang pedih peri....." kutip Ratno Pintoyo atas sepenggal sajak karya Penyair Angkatan 45, Chairil Anwar. 

Terpisah, Ketua Sabuk Merah, Slamet, S.Pd. MM Guru dan Kepala Sekolah, saat Sunaryanta, belajar di SMA Kartika, mendukung ide mantan siswanya yang kini ikut berkompetisi di Pilkada 2020. 

Menurut Slamet Harjo, Sunaryanta sebagai anak petani, sudah sepantasnya ingat kacang akan kulitnya. 
Sunaryanta anak petani
Waktu sekolah dulu, demikian Slamet bertutur,  dia berjalan kaki. Saat ini, meski hidupnya meraih sukses, kendaraan atau mobil bukan satu-satunya fasilitas.  

"Kaki yang kokoh adalah cikal bakal man sana incorpure sano.  Gunakan sebaik-baiknya untuk berjalan, dan berlari bersama seluruh lapisan masyarakat Gunungkidul," pinta Slamet kepada mantan muridnya. 

Terik matahari, imbuh Slamet Harjo, bukan halangan, karena elemen manusia itu adalah Bumi, Geni, Banyu, Angin. 

"Kutunggu di garis finis, hingga memenangkan kompetisi," tutup Slamet.

(Bambang Wahyu Widayadi)

Guru Slamet Harjo Ingin, Anak Muridnya Menjadi Derigent Orkestra Gunungkidul Membangun

Koalisi Partai Golkar, PKB bersama Koalisi Rakyat Bersatu akan berkompetisi  menghantarkanmu menjadi Bupati Gunungkidul 2021 sampai dengan 2025 setelah melewati seleksi alam yang ketat. 

Pernyatan itu mengiringi Sunaryanta melangkah ke KPUD Gunungkidul, antara tanggal 4 hingga 6 September 2020. Harapan tersebut dikutip dari   https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3306512152748706&id=100001698611959. 

Gunungkidul Membangun menjadi taglinemu itu akan mampu menggerakkan seluruh lapisan masyarakat, holobis kuntul baris, bahwa membangun Gunungkidul adalah tugas kita bersama sesuai kapasitas kita masing-masing di bawah ritme dan dirigentmu.  
  
Kompetitormu adalah para master di bidangnya, handal, dan tangguh, namun kamu akan mampu melewatinya dengan menjadikan kompetitormu sebagai guru terbaik karena masyarakat ingin Gunungkidul ingin menjadi lebih baik, karena beliau-beliau telah berkiprah sebelumnya, sedangkan kamu tanpa beban masa lalu, sehingga bisa bebas terbang tinggi setinggi asa masyarakat Gunungkidul.    Jangan lupa tetap rendah hati dan selalu  berdoa: 

“Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah Ta’ala selain do’a.” (HR. Abu Hurairah). 

Mantan gurumu,  akan ikut berjuang bersama yang lain, yang mendukungmu. 

(Bambang Wahyu Widayadi)

Rabu, 02 September 2020

Gerindra Gunungkidul Tetap Usung Profesor Sutrisna, DPD Gerindra DIY Klaim Itu Menyesatkan

Ketua DPC Partai Gerindra Gunungkidul, Purwanto, ST menyatakan, tetap mengusung Sutrisna Wibawa - Ardi Widanto sebagai pasangan calo Bupati dan Wakil Bupati dalam Pilkada serentak 9 Desember 2020.  Sisi lain, DPD Gerindra DIY ketika dikonfirmasi, membantah, bahwa Rekom yang ditunjukkan Purwanto bodong dan menyesatkan. 

"Rekomendasi untuk Profesor saya terima jam 11.00 Wib tadi siang," ujar Purwanto, Rabu malam 2/9/20, jam 20.00 Wib. melalui aplikasi WhatsApp. 

Kepada Media, Purwanto menunjukan Rekomendasi  Nomor 06-768/Rekom/DPP-GERINDRA/2020, dan dokumen B1 KWK, guna mendaftarkan Calon ke KPU.
Substansi Rekomendasi  yang pokok ada dua hal. 
Pertama, DPP Gerindra menyetujui dan merekomendasi Profesor Dr. Sutrisna Wibawa M.Pd. sebagai bakal calon Bupati dan Mahmud Ardi Widanto SIP sebagai bakal calon Wakil Bupati Gunungkidul 2020-2024. 

Kedua DPP Gereindra mencabut Rekomendasi Nomor 03-745/Rekom/DPP-GERINDRA/2020 tanggal 20 Maret 2020 dan dinyatakan tidak berlaku lagi. 

Jajaran fungsionaris DPD Gerindra DIY, yang karena pertimbangan tertentu, tidak bersedia ditulis jatidirinya menyatakan, bahwa Rekomendasi yang ditunjukkan Purwanto, banyak kejanggalan, yang patut diduga, bahwa itu hasil rekayasa oknum internal DPD Gerindra DIY. 

Team Uji Kelayakan melakukan fit and propertes tanggal 3 Agustus dan  mengajukan Mayor Sunaryanta sebagai calon Bupati tanggal 15 Agustus, tetapi Rekom turun untuk Profesor Sutrisna Wibawa tanggal 30 Juli 2020. Ini kejanggalan pertama," kata dia. 
Kejanggalan kedua, pencabutan Rekomendasi tanggal 20 Maret 2020, Nomor 03-745/Rekom/DPP-GERINDRA/2020 tidak masuk akal. Sementara Rekom yang 16 Juni dibiarkan. 

"Untuk apa dicabut, toh nama calon Bupati dan Wakil Bupati masih sama," tandasnya. 

Menurutnya makin tidak elok, karena Rekomendasi Gunungkidul dengan Kabupaten Bantul dan Sleman, tanggalnya berbeda. Yang Gunungkidul 30 Juli 2020, Bantul dan Sleman tanggal 5 Agustus 2020. 
"Terkait Rekom yang diduga bodong, dalam gerak cepat akan diselidiki. Jika perekayasa ditemukan, siapa pun dia, bakal dijatuhi sanksi pemecatan," pungkasnya.    

(Bambang Wahyu Widayadi)


Selasa, 01 September 2020

PILKADA GUNUNGKIDUL 2020: FUL PENYIMPANGAN POLITIK


Deviasi politik atau penyimpangan politik terjadi dalam pilkada Gunungkidul tahun 2020. Ada kemungkinan bahwa deviasi politik di Gunungkidul merupakan satu-satunya yang terjadi di Indonesia. 
  
Penyimpangan pertama, sebut saja menimpa Immawan Wahyudi - Martanty Soenar Dewi. Dalam konteks pilkada, mereka berdua mengikuti uji kepatutan di Partai Golkar, tetapi endingnya pasangan itu justru diterima di Partai NasDem. 

Partai Nasional Demokrat Gunungkidul, di bawah kendali  Suparja, SIP mempunyai tokoh sangat berkelas. Dia adalah Dr. Wahyu Purwanto, mantan rektor UGK malah sepertinya sengaja tidak diusung, termasuk mantan Banteng Ketaton Suharno, SE. 

Peristiwa  Immawan-Martanty ibarat siswa mencari sekokah. Mereka mengerjakan soal ujian masuk  SMA, entah faktor apa terjadi abdurditas, diterima di salah satu perguruan tinggi. 

Tidak kalah aneh dan abdurd, NasDem yang jelas memiliki jago wiring kuning, malah memilih jago Wido klawu bendha. 

Deviasi politik yang kedua menimpa Partai Amanat Nasional (PAN).  

Defakto dejure, Immawan Wahyudi itu politisi dan kader PAN yang sangat militan. Dia dibuang layaknya (maaf) gelandangan politik. DPP PAN kemudian ngotot mengusung tokoh lain yang dibandrol PAN, gara-gara memenuhi syahwat politisi muda yang di Bantul terlunta-lunta, kemudian dipaksakan di Gunungkidul. 

Dua penyimpangan di atas mau tidak mau berakibat buruk bagi partai berlambang matahari yang saat ini dikomandani Zulkifli Hasan itu. 

Meminjam istilah Patwara Wibawa, PAN Gunungkidul menjadi rojah-rajeh, sebagian ikut Immawan, sebagian yang lain fanatik pada Mahmud Ardi Widanto. 

Deviasi ketiga, DPP Partai Golkar dan PKB  menurunkan SK kepada Sunaryanta-Heri Susanto waktunya sangat mepet dengan hari pendaftaran pasangan calon ke KPU yang menurut jadwal dibuka tanggal 4 September 2020  dan ditutup 6  September tahun yang sama. 

Partai Gerindra begitu juga. DPD Gerindra DIY secara formal telah melakukan uji kelayakan pada Sunaryanta, tetapi hingga berita ini tayang, SK diberikan kepada Sunaryanta, atau ke Sutrisna Wibawa, belum juga ada kepastian. 

Ada apa dengan Sunaryanta, SK Penetapannya, turun sedemikian seret? Seperti ada palang besi melintang di depannya. Ini sisi menarik, tetapi tidak mudah dijelaskan.  

Deviasi keempat, pembangkangan Wasekjen Partai Demokrat DPC Gunungkidul dan 18 PAC. Mereka tidak mendukung Sutrisna Wibawa, melainkan  Sunaryanta, tetapi dibiarkan tanpa sanksi apapun. 

(Bambang Wahyu Widayadi)



Sunaryanta Terima SK Dari DPP-PKB Sehari Sebelum Pendaftaran Calon Bupati

Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB) mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 3854/DPP/01/VIII/2020. SK tersebut berisi Tentang Persetujuan Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati.  

Ketua DPC PKB Kabupaten Gunungkidul, H. Sutiyo, SE mengirim foto SK yang dimaksud, kepada awak media, Senin, 1/9/2020. 

"SuratKeputusan, saat ini posisinya ada di Kantor DPW PKB DIY," ujar Sutiyo. 

Dalam pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Gunungkidul, begitu inti SK tersebut, dan berdasarkan usulan Dewan Pengurus Cabang Partai Kebangkitan Bangsa Kabupaten Gunungkidul, Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa memberikan persetujuan kepada pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati: 1. Nama Calon Bupati Sunaryanta; 2. Nama Calon Wakil Bupati Heri Susanto, sebagai Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Gunungkidul.   "Demikian keputusan ini dibuat dengan sebenarnya, untuk digunakan sebagaimana mestinya," demikian bunyi peutup SK yang ditandatangani Muhaimin Iskandar bersama M Hasauddin Wahid, 28 Agustus 2020.

Menurut Sutiyo, SK akan diserahkan kepada Sunaryanto, Kamis 3/9/2020 berbarebangan dengan Bantul dan Sleman, di Kantor DPD Kebangkitan Bansa DIY.  

Sebagaimana diketahui bahwa pendaftaran  pasangan calon bupati dan wakil bupati tanggal 4 September 2020 mulai mendaftarkan di KPU Gunungkidul, hingga 6 September 2020.

Berdasarkan persyaratan minimal 9 (sembilan) kursi, bapaslon Sunaryanta-Heri Susanto memenuhi syarat Dia Positif diusung koalisi Parta Golkar (5 kursi) serta PKB (4 kursi). 

(Bambang Wahyu Widayadi).


DHANDHANG-GULA NALISIR

Siji Gunungkidul  ing mangsa kawuri  Alas wingit 'king tebih sinawang Sato galak panunggune. Jalma nerak keplayu Asri wana caketing ati ...