Ditanya, pihak mana yang menyatakan Kedungranti sebagai zona merah, dukuh Kedungranti Tukiyarno menyatakan tidak tahu-menahu.
"Sebab tanggap situasi, saya bersama 102 KK sepakat menutup diri, tidak bergerak ke luar-masuk dusun, kecuali untuk keperluan mendesak," ujar Tukiyarno, (27/5/20).
Dia mengaku pernah ada tawaran, bahwa delapan warganya untuk dikatantina di Wana Gama. Dukuh Tukiyarno menolak, dan memilih mengkarantina diri di dalam padukuhan.
Dihubungi via aplikasi WhatsApp, Samsuri Lurah Desa Nglipar tidak merespon, alias memilih tidak memberikan keterangan apa pun.
Sementara itu, Dwiyono Lurah Kedungpoh, tetangga Desa, membenarkan, bahwa warga Padukuhan Kedungranti memang mekakukan penutupan dusun secara rapat.
"Saya menengok ke Kedungranti dari arah Sokaliman, Karangmojo, tetapi saya hanya berada di luar portal berjarak 2 hingga 4 meter," ujarnya Dwiyono (27/5/20).
Babinkamtibmas Polsek Nglipar secara kusus, lewat mikropone jinjing di depan balai padukuhan mencoba menyemangati warga Kedungranti, setelah diketahui, bawa delapan orang yang dites rapid hasillnya nonrekatif.
Dukuh, Ketua RT dan tokoh yang lain secara spontan melakukan aksi cukur gundul, melepas ekspresi kegembiraan, terkait predikat zona merah itu terbukti keliru.
Didahlui Tukiyarno, disusul Ngatimin, Marsudi, Andri Ardiansah, Mujiyono, Ali Mulyono, dan Sunarjo, cukur plontos dilakukan berbarengan di sekitar balai padukuhan.
Bambang Wahyu Widayadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Bagaimana Menurut Anda