Sabtu, 31 Oktober 2020

BUPATI GUNUNGKUDUL YANG BARU MEMANG MAU APA

Empat Colon Bupati Gunungkidul di musim Pilkada 2020, sama sama memiliki kesempatan untuk memenangkan kompetisi. Hanya tiga Calon Bupati yang memang harus dipaksa untuk mengaku kalah. 


Nomor Urut 1, 2, 3, dan 4, siapapun yang lolos dari lubang jarum demokrasi Rabu Wage 9 Desember 2020, pada tahun 2021 tidak akan serta merta bisa menjalankan visi, misi dan program yang telah dipersiapkan dalam debat mati-matian pada 27 Oktober,  3 November, dan 10 November 2020.


Tahun 2021 adalah tahun anggaran milik Hj. Badingah, S.Sos, yang secara faktual telah diketok Oktober 2020. Oleh sebab itu, siapa pun yang terpilih, mau tidak mau harus menjalankan visi, misi, dan program Bupati lama. 


Kabarnya, masa jabatan Bupati Bandingah berakhir Februari 2021. Penggantinya praktis mempunyai kesempatan menerapkan visi, misi dan program di tahun 2022, 2023, dan 2024, kecuali dia cerdas dan memiliki power untuk mendikte Sekretaris Daerah. 


Artinya begini, Bupati terpilih melalui Sekda, perlu memiliki keberanian untuk meminta, agar program yang  urgensitasnya tidak mendesak, yang ada di  Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) diberi tanda bintang alias ditunda. Ini yang pertama.


Langkah kedua, Bupati terpilih harus berani melakukan APBD Perubahan, bukan di bulan Setember-Oktober 2021, tetapi maju di bulan Juli-Agustus 2021, supaya visi, misi, dan program yang ditawarkan selama debat terbuka segera terealisasi.


Sementara itu mengubah APBD Gunungkidul 2021 yang telah ditetapkan, tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. APBD Perubahan, memerkukan persetujuan DPRD. Di sinilah pekerjaan rumah Bupati terpilih. 


Soal mengubah APBD 2021, Calon Nomor Urut 1 dan 4, mentangkut akses ke DPRD relatif sempit,  bisa jadi malah dihanlangi. Sementara Calon Nomor Urut 2 dan 3, aksesnya relatif licin. 


Kira-kira demikian gambaran gerak pembangunan terkait dengan Bupati yang akan mengganti Badingah kelak. 


Kalau tidak ada keberanian, maka, program pembangunan tahun 2021 terkesan tidak ada perubahan yang berarti.  Ituharap dimaklumi, karena yang dijalankan adalah programnya Bupati Hj. Badingah, S.Sos.

(Bambang Wahyu Widayadi)


PENDUKUNG CALON BUPATI PECAH KARENA AIR, ITU SEBUAH "KETOLOLAN"

Kabupaten Gunungkidul merupakan tempayan kecil yang besar, hendaknya kalian bersyukur, dan tidak malah bertengkar. Bambang Wusnu Handoyo, tidak berniat menghina siapapun. Pikiran kalian yang sedang mendidih tidak perlu dieksplore hanya untuk keperluan mengaduk-aduk air yang bening.


"Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air (hujan) dari langit, kemudian dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan sungai-sungai bagimu."(QS. Ibrahim 14: Ayat 32).  


Kabupaten Gunungkidul diberi air lebih. Pantai sepanjang 72 kilometer seluruhnya terisi penuh, tidak ada celah kosong. Sungguh Allah Aza Wajala maha pemurah.  Kalian tidak perlu menutupi kebenaran. 


Rupanya kalian saja yang tidak berilmu, bagaimana mengubah air asin menjadi tawar, seperti yang dilakukan keluarga besar Baron Tekno Park. 


Kiranya kalian saja yang melupakan gua melupakan telaga yang di musim kemarau masih menyisakan trilyunan meter kubik air minum. Kalian  juga meragukan keikhlasan sungai Oya yang terbukti  sanggup menghapus dahaga ribuan  warga Desa Banyusoca di Kapanewon Playen.  


Bumi Handayani mau kalian namai bumi yang tadus? Cobalah barang sedikit mengingat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 


 "Dan tidakkah mereka memperhatikan, bahwa Kami mengarahkan (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan (dengan air hujan itu) tanam-tanaman sehingga hewan-hewan ternak mereka dan mereka sendiri dapat makan darinya. Maka mengapa mereka tidak memperhatikan?"(QS. As-Sajdah 32: Ayat 27).


Sudah, berhentilah berolok-olok, kemudian mengusap kening, agar diberi petunjuk, bagaimana memanfaatkan air yang berlebih. Tidak perlu menunggu air itu menenggelamkan manusia, seperti dialami  penguasa yang sombong.  


 "Dan (ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu sehingga kamu dapat Kami selamatkan dan Kami tenggelamkan (Fir'aun dan) pengikut-pengikut Fir'aun, sedang kamu menyaksikan," (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 50).


Bambang Wahyu Widayadi

Jumat, 30 Oktober 2020

Menunggu Turunnya Target Angka Kemiskinan 2024

Dalam debat Pilkada 27/10/20, belum satupun empat Calon Bupati Gunungkidul  menyebutkan secara kongkret angka target turunnya  kemiskinan di Gunungkidul. Itu bukan kekhilafan para kandidat, tetapi karena pertanyaann yang disusun Wasingatu Zakiah dan kawan-kawan selaku tim perumus yang dipercaya KPU memang tidak menggiring ke arah turunnya angka kemiskinan secara kuantitatif. Wasingatu Zakiah dkk. lebih mengedepankan pertanyaan kualitatif.

  

Oleh sebab itu debat sesi pertama, tidak banyak memberikan deskripsi kongkrit, angka kemiskinan yang masih berada di 16,01 tersebut mau digeser ke angka 13,  12, atau 11%, belum muncul di tengah debat. 


Sementara itu, kilas balik melacak jejak digital Pemerintahan Badingah-Immawan, target angka menjadi salah satu tolok ukur sebuah janji politik pasangan calon Bupati dan calon Wakil Bupati. 


Pada saat debat terbuka di Gedung DPRD  berhadapan dengan Jangkung, Benyamin Sudarmadi, dan Subardi, Badingah-Immawan menarget anggka kemiskinan anjloknya di angka 11% dari angka kemiskinan 2015 sebesar 20, 83%.  

Tekad serta janji itu berubah, setelah BAPPEDA menyusun RPJMD, faktanya dalam masa pemerintahannya, Bandingah-Immawan 2016-2021 baru sanggup mematok turun 1% per tahun. 


Pada masa akhir jabatannya tahun 2021, duet politisi yang dikenal  santun itu sangat optimis angka kemiskinan berada di angka 15,6%. 


Kembali ke debat terbuka 37/10/30, bahwa, Sutrisna Wibawa, Immawan Wahyudi, Bambang Wisnu Handoyo, dan Sunaryanta, belum menyodorkan pertanyaan menyangkut target turunnya angka kemiskinan di tahun 2024, meski kemungkinan itu sangat terbuka. 


Tidak ada debat yang mulus dan sempurna. Publik menunggu debat sesi kedua Selasa Pon 3 November 2020, dan keyiga Selasa Kliwon 10 November 2020. Harapannya angka itu mengerucut di sana.  

   (Bambang Wahyu Widayadi) 


Kamis, 29 Oktober 2020

Calon Bupati Gagal Memahami Pola Hidup Petani Gunungkidul

Calon Bupati Nomor Urut 3, Drs. Bambang Wisnu Handoyo mengatakan, pola dan budaya pertanian warga Gunungkidul menjadi kendala utama bagi  pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Hal itu muncul dalam debat pikkada 27/10/20. Pernyataan Bambang Wisnu Handoyo dikritisi pengamat Gunungkidul, Joko Priyatmo (Jepe).   


  Jepe mengutib Buku Informasi Pembangunan Kabupaten Gunungkidul 2019, bahwa undikator IPM  bisa dilihat dari pengukuran  harapan hidup, harapan lama sekolah, harapan rata-rata sekolah dan  pengeluaran perkapita disesuaikan. 


Naiknnya IPM akan terlihat jelas pada bagaimana  empat indikator IPM ditangani secara serius, kemudian capaian Pemerintah Kabupaten Gunungkidul bisa diukur secara memadai.    Naiknya angka IPM menurut Jepe akan menggambarkan bagaimana kualitas kesehatan, pendidikan serta pendapatan perkapita warga, seiring dengan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Gunungkidul.  


Pada bagian awal, Bambang Wisnu Handoyo secara tersurat dan tersirat mengklaim, bahwa Gunungkidul merupakan kabupaten berbasis agraris, meski kemudian dia juga menyinggung dunia usaha (UMKM).


Pada musim kemarau, demikian Bambang Wisnu Handoyo menyebutkan, Gunungkidul tidak ada tanaman tumbuh di ladang. Pendapat Bambang Wisnu Handoyo, menurut Joko Priyatmo  tidak sepenuhnya benar. Termasuk ketika dia menganggap, bahwa di Gunungkidul tidak ada sawah. 


Jepe menilai, Bambang Wisnu Handoyo menutup kenyataan, bahwa pada musim kering, ladang pertanian Gunungkidul tumbuh tanaman semangka, melon, bawang putih, bawang merah, cabai rawit, sayur-mayur, jagung, bahkan padi sawah.


 "Saya tidak habis pikir, mengapa Bambang Wisnu Handoyo seperti menafikan fakta dan data, padahal sumbangan dunia pertanian terhadap PDRB di Gunungkidul masih berada di nomor wahid. Pertanian berada di angka 24,22  prosen," ulas Joko Priyatmo mengevaluasi alur pikiran Calon Bupati nomor urut 3. 


Soal tiga hal yang disebut BWW seperti kendala SDM,  standar produk, dan pasar, Jepe menyatakan sependapat.   


Tahun 2018 IPM di Kabupaten Gunungkidul merupakan yang paling rendah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Realitasnya, menurut Jepe ada di angka 69,24%, sementara angka Nasional 71,39%, Propinsi 79,3%.  


"Dalam debat terbuka sesi pertama kemarin, yang ditunggu publik adalah, bagaimana Bambang Wisnu Handoyo  membeberkan teknik menaikkan angka IPM Gunungkidul  melebihi Propinsi dan Pusat, bukan malah berputar membahas budaya agris yang menurut saya malah pating blasur tidak karuan," pungkasnya.

(Bambang Wahyu Widayadi)


Rabu, 28 Oktober 2020

Dr. Immawan Wahyudi Terperanjat

Calon Bupati Gunungkidul Nomor Urut 2, Dr. Immawan Wahyudi, MH terhenyak ketika mencermati ulasan pengamat terhadap debat terbuka Calon Bupati Gunungkidul 2020.  

  Dia menyatakan, bahwa penilaian pengamat terhadap jalannya debat terbuka di TVRI Yogyakarta jauh berbeda dengan kenyataan. 

   "Kok bertolak belakang dengan pandangan masyarakat ya,"  tulis Immawan Wahyudi pukul 12.27 WIB, di aplikasi WhatsApp, Rabu 28/10/20.

   Dr. Immawan Wahyudi menganggap, bahwa narasumber dalam berita tersebut belum mewakili masyarakat secara keseluruhan. 

  "Sayang penulisan di  https://draft.blogger.com/u/1/blog/post/edit/5074785027683472054/2564074173542062918 jaringannya kurang luas," tutur Immawan, selaku petahana yang maju berkompetisi di Pilkada Gunungkidul 2020.

   Budi Martono, mantan Sekda Gunungkidul pun menimpali berkomentar.

   "Menurut saya sebenarnya beliau beliau tidak belepotan kok. mereka orang orang yang terpilih dan hebat, hanya mungkin keterbatasan waktu dan strategi komunikasi yang belum sepenuhnya dikuasai. 

  Di lain pihak, apa sih tugas dan fungsi Tim Relawan dan Partai Pengusung, mestinya mereka bisa membekalinya," ulas Budi Martono. 

 ."Pengamatan saya acara obyektif, yang menampakkan mental tanpa beban semalam justru No 4, walaupun materi tidak substantif. Dia tampak bisa menawarkan konsep," timpal Cendekiawan Supriyadi, pengamat yang tinggal di Desa Petir, Rongkop, Gunungkidul. 

  Tanpa mengecilkan arti penilaian pengamat, media telah berupaya mencari narasumber sebanyak-banyaknya melalui berbagai jaringan dan saluran.

   "Perlu dimaklumi, yang dimaksud berlepotan adalah kurangnya menejemen data, kaitannya dengan waktu yang tersedia, sehingga uraian tidak mudah dipahami oleh publik. Itu pengertiannya," susul Endar Widodo meluruskan pemberitaan terdahulu.


 (Bambang Wahyu Widayadi)


Debat Publik Calon Bupati Gunungkidul Belepotan

Debat Calon Bupati Gunungkidul yang diselenggarakan Selasa Legi jam 19.30 di TVRI Yogyakarta dinilai belepotan. Tidak muncul teknik serangan yang berati dalam mengatasi tema besar kemiskinan dan kemandirian desa.   Hal itu dikemukakan wartawan senior Gunungkidul, Endar Widodo, dan Slamet Harjo, mantan anggota DPRD DIY, Rabu 28 Oktober 2020. Bambang Krisnadi, bahkan melihat, Calon Nomor Urut 2 dan 3 tekesan megap megap.


"Dari keempat calon saya lihat tidak fokus ke tema yang diangkat KPU. Memang, bahwa Prof. Sutrisna Wibawa relatif lancar membeberkan visi misi dan program, karena dia membaca teks.  Sementara saat memasuki sesi 2, 3, 4 dan 5, keempat kandidat kehilangan momentum, bagaimana memecahkan angka kemiskinan Gunungkidul 16,01% menuju kemandirian desa, buyar sama sekali, ulas Endar Widodo, 28/10/20. 


Dalam debat malam itu, menurut Ewi, publik tidak punya gambaran yang jelas, bagaimana yang seharusnya dikerjakan oleh keempat kandidat tersebut dalam mengurangi angka kemiskinan di Gunungkidul. 


 "Saya melihat, Bambang Wisnu Handoyo malah berusaha menggebuk Sutrisna Wibawa dengan pertanyaan rasio dokter dengan jumlah penduduk Gunungkidul. Pertanyaan ini, menurut publik tidak ada relevansinya dengan upaya menurunkan angka kemiskinan dan kemandirian desa," tegasnya.


Berbeda dengan pengamatan Slamet Harjo. Dia melihat, calon nomor urut 1, 2, dan 3, terbebani oleh latar belakang sebagai birokrat, tempat  mereka mengabdi.  

 

"Menurut saya, Sunaryanta lebih leluasa dalam mengekspresikan pikirannya, meski soal data harus diakui bahwa masih terlalu minim. Pertanyaan yang ditujukan kepada tiga rival tidak ada yang bernuansa menjatuhkan. Dia mengarah ke menggali pikiran ketiga kandidat lain, seperti kesenian Gunungkidul mau dibawa ke mana," ujar Slamet, S.Pd MM. 


Soal ide pengaktifan kembali Dinas Peternakan misalnya,  demikian Slamet mengkritisi gagasan Sunaryanta, perlu dilihat regulasi yang ada.


Penilaian Bambang Krisnadi, mantan anggota DPRD DIY malah bikin merinding.  

 

Kandidat Nomor Urut 2 dan 3 kehabisan nafas, tulis Bambang Kris di grup whatsApp bernama GUYUB. .

(Bambang Wahyu Widayadi)




 

Senin, 26 Oktober 2020

Hujan Mengguyur Bumi Tidar Kolam Ikan Mawut-Mawut

 



Ediana Nuri Hermarwati warga Ngrajek lll RT 03 RW 06, Kalurahan Ngrajek Kecamatan Mungkit,  Kabupaten Magelang, Jawa Tengah menginformasikan, hujan berdurasi 10 jam mengguyur bumi Tidar tanpa henti memporak porandakan kolam ikan dan pemandian Mudal.


Senin, 26/10/20, jam 00.00 WIB dini hari merupakan puncak paling deras. Hujan berlangsung hingga pagi hari, ujar Nuri. 


Dampak hujan deras semalam, sambung Eko Budi Santoso, suami Nuri Hermawarti, kolam ikan milik warga hampir semuanya jebol.


Belum terhitung, bawal, nila dan lele yang saya piara di dekat garasi, ludes terseret  air yang meluap dari jalan umum yang masuk ke pekarangan.


Kolam pemandian putri yang di Umbul Mudal, menurut Eko rusak berat, sementara kolam untuk bagian putra aman.  


Hujan semalam  melibas kekayaan warga terutama petani ikan, tetapi kerugian material belum diketahui secar pasti. 


Tetangga saya punya bawal indukan bobot 70 kg, lepas entah ke mana, pungkas Eko. 


(Bambang Wahyu Widayadi)




PERJALANAN TANAH KERING DAN LUMPUR YANG BERDEBU

Apakah semua calon bupati masih sanggup mengingat, dulu bapak moyang bangsa manusia diberi bentuk setelah tanah liat yang kering ditempel lumpur hitam seperti Adam.  
 
Menyelamatkan, menjaga dan memimpin rombongan tanah liat dan lumpur, dipikulkan ke pundak sepasang kekasih.    

Sungguh, mereka berdua melangkahi larangan karena terdustai semata.  

Puncak memuliakan bumi itu bernama bukit kekuasaan. Saat ini tahun 2020, Tuan berempat sedang mengejar bayangan kursi dengan kertas  biru dan merah. 

Jangan semua Tuan anggap sebagai sedekah, karena Tuan tidak lebih dari seonggok batu licin
tertempeli debu. Begitu tersapu gerimis, batu itu kembali botak tak berambut. Dan debu tak ditahu, terlempar dia  ke mana, debu tak ditahu jejak kemanfaatannya.
  
Hanya satu yang tetangkat ke atas kursi kemuliaan, yang tiga dibakar dengan api kekalahan. 

Siapa di antara Tuan yang pandai melampaui dua ujian, hormatku kutaruh di lapangan sejarah pemilihan.
    
(Bambang Wahyu Widayadi)




Minggu, 25 Oktober 2020

Mayor Duel Dengan Profesor, Doktor dan Sarjana

Debat di depan publik yang digelar KPU Gunungkidul di TVRI Yogyakarta jam 19.30 untuk putaran pertama bagi Paslon Bupati dan Wakil Bupati, jatuh hari Selasa Legi 27 Oktober 2020. Salah satu politisi partai besar menyangsikan kemampuan Mayor Sunaryanta, karena yang dihadapi adalah satu orang profesor, satu orang doktor dan satu orang berpendidikan sarjana. 


Sunaryanta, kepada awak media mengaku, memang tidak menyiapkan naskah akademis, terkait tema menurunkan angka kemiskinan untuk kesejahteraan sosial. Faktanya, saat ini kemiskinan di Gunungkidul memang masih bertengger di angka 16,6%. 


Sunaryanta bilang, tidak akan memaparkan  angka kemiskinan secara ilmiah. Dia lebih  tertarik mencari  biang atau penyebab, mengapa kemiskinan itu terjadi di Gunungkidul.  


Tidak meratanya kesejahteraan, menurut Sunaryanta, menjadi salah satu indikator kemiskinan. Penyebabnya, salah satu diantaranya adalah pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Gunungkidul sangat kecil.


Untuk menuju Gunungkidul sejahtera dengan ukuran angka kemiskinan di bawah  dua digit, (di bawah 10%), Pemkab  harus fokus meningkatkan PAD, yang saat ini masih berada di angka  Rp 1.701.244.592,15, kata Sunaryanta mengutip Raperda RAPBD yang diajukan Bupati Hj. Badingah, S.Sos, di dalam paripurna DPRD pertengagan Oktober 2020.


"Apa yang mau dibagi, dan uang siapa yang mau diratakan demi kesejahteraan bersama, kalau PAD sangat kecil, dua trilyun saja tidak ada, sementara penduduk yang perlu disejahterakan lebih dari 700 jiwa, tegasnya (24/1020).  


Untuk itu, lanjut Sunaryanta, terobosan sumber PAD baru harus dicari. Pengelolaan limbah medis demikian dia mengambil contoh, di Gunungkidul belum dijamah sama sekali, padahal di  Surabaya, limbah medis menyumbang trilyunan rupiah untuk PAD.  


BUMD yang yang telah ada seperti BGD juga PDAM perlu didorong agar sumbangan terhadap PAD bermanfaat bagi masyarakat. 


Khusus. PDAM dia menyatakan, ketersediaan air harus memenuhi standar 3K (kualitas, kuantitas, dan kontinuitas).     Pada masa kampanye, saya berkeliling Gunungkidul selama 29 hari. Banyak saya jumpai sumber air yang di musim kemarau airnya melimpah. Di Kapanewon Panggang ada Goa Doplang, yang itu sesungguhnya bisa dikelola oleh BUM DESA, sehingga urusan droping air bisa diminimalisir.  


 "Air, bagi saya adalah kebutuhan pokok. PDAM dan BUM DESA, atau SPAM IKK Oya Wening di Kapanewon Patuk harus mensejahterakan warga, bukan sebaliknya. Mengurusi air identik dengan menekan atau mengurangi kemiskinan. Ratusan juta bisa dialihkan dan diratakan untuk keperluan lain, tidak sebatas untuk pebisnis Tanki Rp 150 ribuan," ungkap Sunaryanta.  


Berbicara kesulitan pupuk, berdasarkan obrolan kilat dengan petani peladang, menurut Sunaryanta, tidak begitu krusial. 


Menurutnya, petani masih rajin menggunakan pupuk kandang dan kompos. Bahkan ada yang berani menyebut, tidak tergantung pada pupuk pabrik, kualitas tanah pertanian versi petani, bila kebanyakan  pupuk pabrik justru memburuk.   


Terkait ketahanan pangan, guna menekan angka kemuskinan Sunaryanta berpendapat, pemerintah tidak perlu fanatik padi jagung dan kedelai (pajale). Yang pokok, warga Gunungkidul perlu digerakkan menggarap lahan tidur. 


Dia setuju ajakan Ir. Arintoko, bahwa nandura sing mbok pangan, mangana sing mbok tandur. Menanam pangan jenis apapun,  bisa dilakukan di lahan lahan tidur, dilakukan serentak, secara bersama sama.  


Gunungkidul membangun, gambarannya seperti itu. Saya warga biasa yang tidak bisa berbuat banyak, tanpa dukungan sedulur yang jumlahnya 16,6% dari     700.000 jiwa, kata anak petani itu merendah.


Sementara itu, politisi sekaligus Ketua DPC Gerindra Gunungkidul, Purwanto, ST menyimak, soal status kependidikan 4 calon Bupati Gunungkidul.


"Yang  tidak  dicermati, No  1 bergelar propfesor,  No. 2 doktor,  No 3 sarjana, dan 4 SMA," tulis Purwanto" ST via aplikasi WhatsApp, jauh sebelum debat dilakukan.   


(Bambang Wahyu Widayadi)


Jumat, 23 Oktober 2020

Hari Debat Publik Diumumkan, Tetapi Nama Pemandu Debat Dirahasiakan


Ketua KPU Gunungkudul, Ahmadi Ruslan Hani menberitahukan, bahwa debat di depan publik untuk calon Bupati dan calon Wakil Bupati Gunungkidul dilakukan tiga Selasa berturut-turut . Tempat dan tema debat dibocorkan, tetapi nama pemandu debat dirahasiakan.

"Debat di depan publik di stasiun TVRI Yogyakarta, tiga Selasa berturut-turut dimulai  jam 19.30 Wib," ujar Ahmadi Ruslan Hani, Jum'at siang (23/10/20).

Dia merinci, debat pertama hari Selasa Legi  27 Oktober 2020, debat kedua, Selasa Pon 3 November 2020 dan ketiga, Selasa Kliwon 10 November 2020.

Dalam debat pertama ditampilkan calon Bupati Sutrisna Wibawa, Immawan Wahyudi, Bambang Wisnu Handoyo dan Sunaryanta. Perlu diketahui,  team yang diperbolehkan  mendanpingi masing-masing calon Bupati hanya empat orang. 

"Disamping memaparkan visi dan misi, keempat calon Bupati Gunungkidul diminta membedah tema besar mengatasi kemiskinan menuju kesehahteraan sosial," terang Ketua KPU Gunungkidul.

Diminta menyebutkan nama pemandu debat di minggu pertama, Ruslan Hani menyatakan keberatan. 
 
"Pada hari H, masyrakat  pasti tahu, karena akan diumumkan di sana" kelitnya. 

Debat kedua menampilkan calon Wakil Bupati Mahmud Ardi Widanto, Martanty Soenar Dewi, Benyamin Sudarmadi dan Heri Siswanto. Tentang tema untuk Wakil Bupati Ruslan Hani belum menyebutkannya.

Debat ketiga, atau debat yang terakhir menampilkan calon Bupati  bersama  calon Wakil Bupati.  

Paslon Nomor Urut 1, 2, 3, dan 4, saling adu gagasan merebut simpati pemilih,  yang jumlahnya tidak kurang dari 5.909.850 orang.
(Bambang Wahyu Widayadi).

DHANDHANG-GULA NALISIR

Siji Gunungkidul  ing mangsa kawuri  Alas wingit 'king tebih sinawang Sato galak panunggune. Jalma nerak keplayu Asri wana caketing ati ...