Senin, 26 Oktober 2020

PERJALANAN TANAH KERING DAN LUMPUR YANG BERDEBU

Apakah semua calon bupati masih sanggup mengingat, dulu bapak moyang bangsa manusia diberi bentuk setelah tanah liat yang kering ditempel lumpur hitam seperti Adam.  
 
Menyelamatkan, menjaga dan memimpin rombongan tanah liat dan lumpur, dipikulkan ke pundak sepasang kekasih.    

Sungguh, mereka berdua melangkahi larangan karena terdustai semata.  

Puncak memuliakan bumi itu bernama bukit kekuasaan. Saat ini tahun 2020, Tuan berempat sedang mengejar bayangan kursi dengan kertas  biru dan merah. 

Jangan semua Tuan anggap sebagai sedekah, karena Tuan tidak lebih dari seonggok batu licin
tertempeli debu. Begitu tersapu gerimis, batu itu kembali botak tak berambut. Dan debu tak ditahu, terlempar dia  ke mana, debu tak ditahu jejak kemanfaatannya.
  
Hanya satu yang tetangkat ke atas kursi kemuliaan, yang tiga dibakar dengan api kekalahan. 

Siapa di antara Tuan yang pandai melampaui dua ujian, hormatku kutaruh di lapangan sejarah pemilihan.
    
(Bambang Wahyu Widayadi)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Menurut Anda

DHANDHANG-GULA NALISIR

Siji Gunungkidul  ing mangsa kawuri  Alas wingit 'king tebih sinawang Sato galak panunggune. Jalma nerak keplayu Asri wana caketing ati ...