Jumat, 09 Oktober 2020

Diundang Makan, Sunaryanta Diarak Petani



Hati Calon Bupati  Nomor Urut 4, Kabupaten Gunugkidul, Sunaryanta  tersentuh. Matanya berkaca-kaca saat ratusan petani  Padukuhan Manggung, Desa Ngalang, Kapanewon  Gedangsari mengundang silaturahmi dan mengajak makan  nasi bancakan di atas daun pisang.


  “Ini pengalaman yang tak mungkin saya lupakan. Saya  terharu menghadiri undangan ini. Mereka tulus menyambut dan menerima saya. Apalagi saat saya diajak makan bersama dengan alas daun pisang,” ungkap Sunaryanta kepada awak media, Jumat (9/10).


  Calon Bupati Gunungkidul yang diusung Golkar dan PKB ini diarak puluhan warga menggunakan sepeda motor menuju ke lokasi acara makan bersama. Sesekali terdengar  teruakant Nomor 4 Menang. Ada juga yang mengumandangkan Mayor Menang, Pertanian Berkembang, Rakyat Senang. 

Sampai di tempat acara, Sunaryanta disambut puluhan ibu dan bapak-bapak, berjajar berdiri menunggu.

 

“Terimakasih Pak Sunaryanta telah berkenan hadir memenuhi undangan  petani Padukuhan Manggung. Saya tidak menduga, kalau undangan lewat whatsApp Bapak  respon  cepat,” kata Muhtar, mewakili petani saat acara dimulai.


 Sebagai petani, kata Muhtar, dirinya dan semua warga tahu cara berterimakasih kepada calon pemimpin yang  baik seperti Mayor Sunaryanta.


   “Bapak tak usah ajari kami, siapa yang harus kami coblos pada tanggal 9 Desember nanti. Kami sudah mengerti bagaimana membalas kebaikan Bapak kepada kami,” tegasnya.


 Merespon sambutan tersebut, Sunaryanta yang berpasangan dengan Heri Susanto ini pun menyampaikan ucapan  yang sama.


 Sebuah bentuk kesungguhannya maju menjadi calon bupati, Sunaryanta menegaskan, bahwa dia ingin menjadi pemimpin  sekaligus menjadi pelayan rakyat.

 

“Pemimpin itu bukan hanya menggunakan telunjuk untuk memerintah, tapi juga harus mampu dan mau menjadi pelayan rakyat. Jangan dibalik, pemimpin minta dilayani. Pemimpin itu yang harus melayani,” tandasnya.


  Sebagai wujud keseriusannya, Sunaryanta menyampaikan pesan simbolik dengan mengambilkan piring beserta nasi dan lauk pauk yang tersedia, lalu menyerahannya kepada salah satu warga yang dianggap paling sepuh. 


 “Mohon diterima sepiring nasi ini, dan mohon ijin saya mau menyuapi salah satu warga paling tua sebagai bentuk rasa sayang dan hormat. Bagi saya, dimana pun kalau saya ketemu orang yang lebih tua, saya selalu anggap sebagai orang tua sendiri. Apalagi, mereka yang sudah jompo,” tururnya terbata-bata.


 (Bambang Wahyu Widayadi)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Menurut Anda

DHANDHANG-GULA NALISIR

Siji Gunungkidul  ing mangsa kawuri  Alas wingit 'king tebih sinawang Sato galak panunggune. Jalma nerak keplayu Asri wana caketing ati ...