Rabu, 21 Juli 2021

BAYI LAHIR MENGAPA HARUS MENANGIS



Jagat raya ini adalah regulasi, adalah undang-undang, adalah aturan yang super sistemik. Tidak ada satu pun isi alam ini yang terpisah dari  tata kelola yang maha rumit, tata aturan maha dahsyat sekaligus maha mengagumkan.


Bayi lahir mengapa harus menangis, ya karena regulasinya memang harus begitu, harus mewek. Kalau bayi lahir tidak menangis, orang tuanya bingung.


Keluar dari rahim ibunya pun adalah bukan kehendak si jabang bayi, tetapi kehendak sistem, kehendak aturan.


Telah disiapkan regulasi yang mengatur jam, hari, tanggal dan tahun lahirnya seorang anak manusia. 


Itu sistem, itu aturan, itu ayat yang mau tidak mau, suka tidak suka, harus berjalan dan dijalani.


Regulasi alam tidak butuh penafsiran. Tidak ada cerita seorang bayi tinggal berlama lama, sebutlah sampai sepuluh tahun di dalam rahim. Paling  panjang durasinya adalah 9 bulan 10 hari.


Setelah berada di luar kandungan, mengapa mulut bayi itu komat-kamit? Ketika sang ibu memberinya nenen, maka si bayi menerima kasih itu lebih pintar dari bapaknya.


Semua itu karena sistem, karena regulasi maha regulasi, dan karena perintah yang harus dijalani tanpa harus ditawar.


Berbeda dengan perintah yang dikeluarkan Presiden Joko Widodo. Instruksi yang ditulis dan disebarkan ke 34 Gubernur tentang PPKM Darurat itu bukan sistem.


Penerapan di daerah masih ribet dengan penafsiran. Masih dibantah oleh Bupati Banjar Negara. Masih ada Satuan  Polisi Pamong Praja yang suka main pukul terhadap pedagang makanan di Sulawesi. 


Karena apa? Sebab instruksi Presiden Joko Widodo itu bukan sistem. Regulasi PPKM darurat itu berada di luar diri manusia.


Sabda pendita ratu datan wola-wali, ngedika seklimah rata tiang sak Negari, hanya ada di cerita wayang purwa.


Presiden Jokowi  saat live streaming 20-7-2021 adalah dalam posisi sedang tidak jujur terhadap dirinya sendiri terkait instruksi PPKM Darurat yang dilonggarkan atau dimolorkan hingga tanggal 26-7-2021.


RDia tahu, tetapi tidak mau tahu bahwa pelonggaran dan / atau pemoloran waktu PPKM Darurat adalah bentuk pengakuan bahwa dia tidak kuasa meladeni gempuran maut makhluk yang super kecil.


Atau Presiden Jokowi memang tidak sadar bahwa dia sedang berolok-olok. Mengapa? Karena tidak jarang, Jokowi, para menterinya, juga mitra kerjanya di DPR menganggap Covid-19 adalah musuh bersama. Pernyataan itu ditulis di baliho-baliho besar di seluruh tanah air di awal pandemi itu datang.


Jokowi lupa bahwa Covid-19 adalah regulasi, adalah aturan, adalah sistem yang suka tidak suka harus berjalan dan dijalani. Kesadaran tertinggi (highest consiosuesness) akan hal itu tidak ada di dalam benak Jokowi.Lalu bagaimana? 


Ya diikuti saja. Jokowi ke Istana Negara itu kan sebuah resiko dalam berdemokrasi. 


Setelah di dalam Istana lalu datang virus Corona, itu bagian dari tata kelola dunia sebagaimana bayi merah yang nenen kepada emaknya. Seperti bayi harus menangis saat dia lahir. 


Menangis sajalah, karena regulasi dunia itu adalah tidak nyaman untuk sebagian besar manusia.


(Bambang Wahyu Widayadi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Menurut Anda

DHANDHANG-GULA NALISIR

Siji Gunungkidul  ing mangsa kawuri  Alas wingit 'king tebih sinawang Sato galak panunggune. Jalma nerak keplayu Asri wana caketing ati ...