Senin, 02 November 2020

MENGINTIP MATAHARIMU DARI GENTING KACA YANG MULAI BURAM


Pada saat mengembara, manusia diwajibkan berdiri, rukuk dan sujud untuk menghapus bau keringat yang tidak terlalu sedap.

Tetapi sebagian besar manusia suka nenutupi kebenaran. Tidak salah,  jika mereka kemudian disebut sebagai  tuli, bisu, dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali. 

Aku manusia seperti apa, mengintip matahariMU dari genting kaca aku malu dengan setumpuk kebebasan yang Engkau limpahkan. 

Belum satupun hidup ini punya arti, terburu kulit muka keriput menyerupai daun pisang menunggu hujan. 

Sebaik-baiknya kembali adalah kepadaMU, tetapi hati ini seperti telah terkunci.  

Izinkan hamba memohon bisa menapaki jalan  lurus yang Engkau terangi, bukan jalan gelap yang Engkau padamkan cahayanya.


Meski satu seruputan kopi tanpa gula, indahnya jalan berliku hendak kuteguk, supaya perjalanan itu berpelita dengan ilmu, amal dan tabiat.    

Ini munajatku yang kecil tetapi besar. Terkabulnya ada di tangan kehendak Paduka Tuanku. Aku tak kuasa.  Aku terlambat mengagumi matahariMU.

Putat, 2 November 2020  
Bambang Wahyu Widayadi

Bambang Wahyu Widayadi


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Menurut Anda

DHANDHANG-GULA NALISIR

Siji Gunungkidul  ing mangsa kawuri  Alas wingit 'king tebih sinawang Sato galak panunggune. Jalma nerak keplayu Asri wana caketing ati ...