Senin, 21 September 2020

MAYORE MASUK PERUT HANDAYANI, SEMUA MATA TERBELALAK

Pilkada Serentak di Gunungkidul, tidak bisa terlepas dari perang jargon atau adu slogan. Empat  pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati masing-masing memilih ideomatika spesifik, supaya mudah diingat, walaupun kadang tidak mudah dipahami.

Pof. Dr. Sutrisna Wibawa akrab dengan kalimat Membangun Gunungkidul di Abad Samudera Hindia. Bambang Wisnu Handoyo memilih ideomatika simple, Ora Mbrebegi, Ning Ngrampungi. Dr. Immawan Wahyudi yang nota bene petahana, cukup mengucap Bismillah, Gunungkidul Aman Ayem Sejatera, kemudian disingkat menjadi Bismillah GAAS. Mayore Sunaryanta beda lagi. Anggota TNI yang masih aktif di Kementerian Pertahanan ini cukup membalik frasa Membangun Gunungkidul menjadi Gunungkidul Membangun.

Apa pun slogan dan jargon yang diteriakkan pada masa pilkada 2020, mengutip pendapat Prof. Dr. Moeljarto, Tokrowinoto, MPA,  empat kandidat yang berlaga di Gunungkidul itu  dihadapkan pada persoalan, bagaimana mereka menjawab tantangan  sekaligus mengatasi situasi pembagunan yang serba  dilematis agar mendekati cita-cita seluruh rakyat, yang tersirat dan tersurat di dalam UUD 1945.

Meminjam pisau analisa Moeljarto, Tokrowinoto, yang konon pernah menjadi asisten kepartaian Dr. Moh Hatta, di tahun 60-an ini, bahwa kebijakan seorang pemimpin erat kaitannya dengan tiga paradigma  pembangunan yang dipilih, apakah itu paradigma pertumbuhan, kesejahteraan atau paradigna people centered.

Jargon Gunungkidul Membangun, menurut Joko Priyatmo, dia seorang pengamat masalah sosial asal Kapanewon Patuk, Mayor Sunaryanta dianggap lebih dekat dengan paradigma people sentered, yang kemudian lebih dikenal dengan pendekatan Pemberdayaan Sumberdaya Lokal (PSDL). 

Kegiatan berkeliling Kapanewon Patuk, di 14 titik kegiatan warga, Minggu (20/9/20), menurut Joko Priyatmo merupakan indikator yang mendekati dengan pilihan tajuk Gunungkidul Membangun. 

Dari dulu, ucap Joko Priyatmo, tanpa digerakkan pemerintah, warga Handayani melakukan gerakan swadaya yang jika dirupiahkan bisa miliaran, bahkan trilyunan. 

Kesibukan Pasar Tradisional Klepu, Desa Nglegi, Kapanewon Patuk yang dikunjungi, meski hanya sebentar, menurut Joko Priyatmo merupakan potret perputaran uang ala pelosok pedusunan. Dan itu sudah terjadi sejak tahun 1960. 

Mulai dari kegiatan gugur gunung  merehap balai padukuhan, di Putat 2, membuat  masjid,  di Dusun Kembang dan Patuk,  menyiapkan lapangan voly di Gedora, Nglegi dan Belang, Kalurahan Terbah, melebarkan jalan di Krakalan Beji, hingga geliat industri topeng di Bobung, termasuk pengelolaan destinasi wisata Batur Hill dan Pemancingan  Telaga Kemuning juga ibu-ibu yang selalu berjingkrak-jingkak senam di Toserba Sambipitu, menurut Joko Priyatmo, adalah murni gerakan rakyat, tanpa menunggu komando pemerintah. 

"Tajuk Gunungkidul Membangun yang digagas Mayore, secara faktual terbukti  dilakukan masyarakat seluruh elemen, sejak  zaman Bung Karno hingga sekarang," kata Jepe, sapaan akrab Joko Priyatmo.

Setelah perang slogan, demikian Jepe bertanya, paham tidak para bakal calon itu mengenai dinamika yang baru saja dilihat Sunaryanto di Kapanewon Patuk. 

"Hal serupa, umum dilakukan di 17 Kapanewon lain di Gunungkidul. Seluruh Kandidat, bagi saya perlu tahu isi perut Bumi Handayani. Tidak hanya Mayore saja."  Tentara itu sudah turun, dan segenap  warga yang disambangi terbelalak," pungkasnya. 
 
(Bambang Wahyu Widayadi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Menurut Anda

DHANDHANG-GULA NALISIR

Siji Gunungkidul  ing mangsa kawuri  Alas wingit 'king tebih sinawang Sato galak panunggune. Jalma nerak keplayu Asri wana caketing ati ...